Hukum ›› Kasus Dugaan Korupsi PNBP Fekon Unpatti Segera Diekspos Pemeriksaan Hampir Rampung

Kasus Dugaan Korupsi PNBP Fekon Unpatti Segera Diekspos


Ambon - Tim Kejari Ambon hampir merampungkan pemeriksaan kasus dugaan korupsi dana Pene­rimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) senilai Rp 3 miliar di Fakultas Ekonomi (Fekon) Unpatti. Dalam waktu dekat, kasus tersebut diekspos. 

“Kita terus memeriksa saksi-saksi, sudah hampir rampung. Dalam waktu dekat kasus ini diekspos,” kata sumber Siwalima, di Kejari Ambon, Jumat (15/11).

Sumber itu menambahkan, tim penyelidik sudah mengantongi sejumlah bukti dugaan korupsi dalam pengelolaan dana PNBP di Fekon.

Kepala Kejari Ambon R Zega yang dikon­firmasi Siwalima, di ruang kerjanya, Jumat (15/11) belum mau berkomentar banyak. Ia hanya mengatakan, kasus dugaan korupsi dana PNBP Fekon masih dalam penyelidikan.

“Kasus ini masih dalam penyeli­dikan. Pemeriksaan berupa permin­taan keterangan masih dilakukan. Kalau masih ditahap penyelidikan jangan terlalu dibuka dululah. Inti­nya kasus ini masih diusut. Per­mintaan keterangan sudah mau rampung,” jelasnya.

Ditanyakan soal pemeriksaan petinggi Unpatti, Kajari mengatakan, kemungkinan dilakukan kalau sudah dinaikan ke tahap penyidikan.

Sebelumnya, tim Kejari Ambon kembali memeriksa Bendahara Fe­kon, J Hahury, Kamis (14/11). Ha­hury juga sebelumnya telah diperiksa Senin (11/11) lalu. 

Kasi Intel Kejari Ambon, Fauzan kepada Siwalima mengatakan, tim penyidik masih melakukan pendala­man terhadap laporan pertanggung jawaban dana PNBP yang dibuat oleh Fekon Unpatti.

“Kita sudah mengantongi doku­men-dokumen terkait laporan per­tanggungjawaban maupun doku­men yang terkait dengan pihak ketiga,” jelasnya.

Disinggung soal hasil pemerik­saan Hahury, mantan Kasipidsus Kejari Jambi ini enggan membeber­kannya. “Itu rahasia tim penyelidi­kan karena sampai saat ini tim masih bekerja terus menelusuri dugaan kasus ini sesuai dengan progress Sprinlik,” ujarnya.

Hahury yang dicegat Siwalima, seusai menjalani pemeriksaan enggan berkomentar. Ia menya­rankan untuk bertanya ke jaksa.

“Maaf, saya tidak bisa berko­mentar nanti ditanya saja ke jaksa,” katanya, sambil bergegas mening­galkan Kantor Kejari Ambon.

Sejumlah pekerjaan senilai Rp 3 miliar yang bersumber dari dana PNBP tahun 2011 dan 2012 di Fekon Unpatti terindikasi fiktif. Selain itu, diduga terjadi mark up besar-besa­ran pada nilai pekerjaan tersebut.

Setelah menerima laporan dari salah satu LSM, Kajari Ambon, R Zega langsung mengeluarkan surat perintah penyelidikan pada Bulan September 2013.  

Sumber Siwalima di kejaksaan menyebutkan, dugaan penyelewe­ngan anggaran negara itu terjadi dalam sejumlah pekerjaan diantara­nya, pengadaan barang dan kegia­tan praktikum mahasiswa tahun 2011 senilai Rp1,2 miliar dan tahun 2012 senilai Rp1,8 miliar. 

“Anggaran itu hanya bisa untuk belanja barang misalnya terdiri dari ATK, barang habis pakai, dan ke­giatan praktikum mahasiswa. Namun anggaran itu digunakan untuk kegiatan  lain,” kata sumber itu.

Sumber itu juga menjelaskan, total anggaran Rp 3 miliar tersebut  merupakan anggaran rutin yang dikucurkan rektorat setiap tahun atas permintaan Fekon.

“Satker Fakultas Ekonomi meng­ajukan permintaan ke rektorat, dan melalui permintaan tersebut angga­rannya dicairkan, dengan ketentuan dalam jangka waktu dua minggu sudah harus membuat laporan pertanggungjawaban,” ujarnya.

Setelah jaksa melakukan peng­usutan ditemukan laporan pertang­gungjawaban yang dibuat adalah fiktif alias palsu. Hal ini juga diper­kuat dengan pemeriksaan sejumlah saksi.

“Ada nota-nota belanja yang sengaja dipalsukan atas perintah petinggi Fekon Unpatti, termasuk didalamnya mengisi nota-nota ko­song. Jadi laporan pertanggung­jawaban yang dibuat terindikasi fiktif,” ungkap sumber itu.

Dalam kasus ini, tim Penyelidikan Kejari Ambon memeriksa delapan pejabat Unpatti, Selasa (12/11). Mereka yang diperiksa diantaranya, Karo Umum dan Keuangan Fer­dinand Waas selaku Pejabat Penan­datangan Surat Perintah Mem­bayar (SPM); mantan Bendahara Peneri­maan J Tehusilawany; Bendahara Pengeluaran Pembantu PNBP R Adam; mantan Bendahara Penge­lua­ran, Ny. Lussy R. Lopies, dan Ketua Jurusan Akuntansi Fekon, FM Anakotta.

Penyidik juga sebelumnya sudah memeriksa  Dekan Fekon Stella Maris Metekohy, D Leatomu dan D Pattinasarany yang adalah pegawai keuangan Fekon serta Bendahara J Hahury, Ketua Jurusan Akuntansi Fanny Anakotta, Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Eka Sose­lissa dan Ketua Jurusan Manajemen Yuliana Latuihamahallo.

BIAN akan Kawal

Badan Investigasi Aset Negara (BIAN) Maluku akan mengawal penanganan kasus dugaan korupsi Fekon Unpatti hingga tuntas.

“Ini tanggung jawab moral kita untuk mendorong kejaksaan agar tidak boleh main-main dengan kasus korupsi Fekon Unpatti. Sebab ini universitas ternama di Maluku. Kejakaan tidak boleh main-main, kita akan kawal sampai kasus ini tuntas,” tandas Koordinator BIAN Maluku dan Indonesia Timur, Fredy Tamaela kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Jumat (15/11).

Dikatakan, mencuatnya kasus dugaan korupsi di Fekon sangat merusak citra Unpatti sebagai se­buah universitas ternama di Maluku.

Ia meminta petinggi Unpatti tak mengintervensi penanganan kasus ini. Biarkan proses hukum berjalan se­suai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.  (S-27/S-37)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon