Budaya ›› Kain Gandong 2000 Meter Bentangi Penjemputan Dari Acara Panas Pela Amahai-Iha Mahu

Kain Gandong 2000 Meter Bentangi Penjemputan


Masohi - Kain Gandong putih sepajang 2000 meter membentangi jalan utama sepanjang masuk dermaga Amahai, jalan Negeri Soahuku hingga Negeri Amahai, membungkus penjemputan  Upu Latu (Raja) bersama ratusan ribu warga Negeri Iha Mahu, Kecamatan Saparua Timur, saat tiba di Dermaga Amahai,Selasa (27/9).

Pantauan Siwalima, saat penyemputan Upu Latu Negeri Iha Mahu oleh, Upu Latu Negeri Lounusa Maatita (Amahai) Frederik Halattu, bersama  para Upu Latu negeri negeri gandong, Rutah, Soahuku, Makariki, Haruru, Waraka, Ketua Panitia Alvaris Halattu serta para tokoh-tokoh adat, dan seluruh warga Negeri Amahai persaudaraan, yang dibangun dengan sumpah para tentua dan leluhur kedua negeri ini sangat kental dalam penjemputan warga negeri Iha Mahu, Selasa (28/9) siang itu.

Anak cucu negeri Amahai dan Iha Mahu dari berbagai penjuru tanah air,bahkan dari negeri kincir angin belanda pun turut hadir dan bersama memasuki kain gandong terpanjang dalam sejarah panas pela negeri negeri di Maluku.

Tak hanya warga kedua negeri, putri pariwisata Indonesia, abang dan none Jakarta 2015, serta tokoh peduli lingkungan Uli Harry Rusadi juga ikut hadiri penjemputan gandong, pela Iha Mahu dan memasuki kain gandong 2000 meter itu.

Berbagai tarian adat, tari-toki Gaba-Gaba, tarian Cakalele serta kapata mengiringi perjalanan kain gandong yang dipegang ratusan ibu-ibu warga Lounussa Maatita.

Ketua Panitia Alvaris Wattimury usai penjemputan gandong yang ditutup dalam doa bersama di gedung Gereja Imanuel Negeri Amahai menegaskan, kain gandong 2000 meter memang sengaja dilakukan panitia untuk menampilkan sisi lain prosesi penyemputan pela Iha Mahu di Negeri Lounussa Maatita Amahei.

Dia mengungkapkan, panas pela adalah momentum sejarah untuk menegaskan kembali sumpah pela yang dibangun para leluhur kedua negeri itu. Disisi lain, panas pela Amahei Iha Mahu adalah event pariwisata yang digagas bertaraf nasional. Olehnya berbagai kegiatan akan dilakukan sampai dengan hari puncak penegasan nilai-nilai sejarah panas pela Amahei Iha Mahu, 29 September mendatang.

“Panas Pela memang adalah momentum adat yang kembali menegaskan atau memanaskan ulang inti dari nilai-nilak sumpah pela kepada anak cucu kedua negeri, agar tetap lestari. Lebih dari itu, ini adalah iven pariwisata yang memiliki daya tarik tersendiri wisatawan lokal, domestik dan Manca Negara. Olehnya, kegiatan ini secara tidak langsung kita promosikan,” kata Wattimury. ( S-36)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon