Hukum ›› Kabid Perhubungan Darat Ancam Bunuh Wartawan Siwalima Kinerja Disoroti DPRD dan Inspektorat

Kabid Perhubungan Darat Ancam Bunuh Wartawan Siwalima


Ambon - Kabid Perhubungan Darat Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Ambon, Doddy Rettob kebakaran jenggot setelah dihujani berbagai kritikan soal aktivitas bongkar muat di jalan-jalan protokol yang tak becus diatasinya.

Tak hanya DPRD dan Inspektorat, Sekkot AG Latuheru juga turut menyoroti kinerja Rettob. Bukannya melakukan evaluasi kinerja SKPD yang dipimpinnya, Rettob malah menyalahkan wartawan. Bahkan menunjukkan sikap seperti preman dengan mengancam untuk mem­bunuh wartawan Siwalima¸ Gusty Riberu yang setiap harinya bertugas meliput di Kantor Walikota Ambon. 

Tindakan premanisme yang ditunjukkan Rettob berawal dari pemberitaan Siwalima soal aktivitas bongkar muat di jalan-jalan protokol yang masih terus berlangsung. Padahal telah dilarang oleh Perda Nomor 5 tahun 2011 tentang Lalulintas Angkutan Jalan dan Perwali Nomor 7 tahun 2013 tentang Aktivitas Bongkar Muat.

Pihak DPRD Kota Ambon telah beberapa kali memberikan teguran, namun tak pernah ada perubahan. Olehnya itu, DPRD menduga pihak Bidang Perhubungan Darat ada main mata dengan para pengusaha sehingga aktivitas bongkar muat terus berlangsung.

Sekkot AG Latuheru juga meng­akui, sampai saat ini aktivitas bongkar muat di siang hari masih berlangsung, terkecuali dilakukan pada malam hari sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

“Sesuai dengan aturan itu aktivitas bongkar muat dilakukan pada malam hari pada pukul 22.00-06.00 WITm dan aturan itu sudah ada ditangan para pengusaha termasuk petugas Bidang Darat untuk dilakukan penindakan, tetapi pada kenyataanya sampai dengan sekarang aktivitas bongkar muat tetap dilakukan setiap hari,” kata Latuheru kepada Siwalima, Senin (30/6).

Karena itu, Inspektorat telah diperintahkan untuk menelusuri dugaan adanya permainan petugas Dishud dengan pengusaha.

“Jadi selain melakukan evaluasi terhadap kinerja dinas khusunya Bidang Darat kita sudah menyerahkan kepada Inspektorat untuk diperiksa jangan sampai ada permainan antara petugas dengan pengusaha,” ujar Latuheru.

Dikatakan, kinerja Bidang Darat yang dipimpin Doddy Rettob akan dievaluasi setelah menerima hasil penyelidikan dari Inspektorat.

“Kita siap lakukan evaluasi tetapi kita tunggu hasil dari Ins­pektorat seperti apa. Kalau ada du­gaan main mata dengan membe­rikan sejumlah uang kepada petu­gas pasti akan diproses hukum,” tegas Latuheru.

Dijelaskan, kinerja bidang darat yang dipimpin Doddy Rettop akan dievaluasi setelah menerima hasil penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan Inspektorat.

“Kita siap lakukan evaluasi tetapi kita tunggu hasil dari inspektorat seperti apa kalau ada dugaan main mata dengan memberikan sejumlah uang kepada petugas pasti akan diproses hukum,” tegas Latuheru.

Kepala Inspektorat Kota Ambon Jacky Talahattu juga mencurigai adanya permainan, sebab sudah berulangkali tim penertiban melakukan sosialisasi maupun peringatan kepada pemilik tempat usaha agar tidak lagi melaku­kan aktivitas bongkar muat pada siang hari, namun kenya­taanya sebaliknya.

Beberapa kali Siwalima mencoba menghubungi Rettob selaku Kabid Perhubungan Darat, namun tak berhasil ditemui.

Kemudian pada Selasa (15/7) pantauan Siwalima di kawasan AY Patty yang merupakan salah satu dari tiga ruas jalan utama yang menjadi pilot project penertiban aktivitas tersebut, terlihat beberapa truk melakukan aktivitas bongkar muat, namun tak ditindak tegas oleh petugas Dishub.

Atas temuan ini, Siwalima kembali mencoba untuk mengkonfirmasi Rettob namun tak berhasil ditemui. Saat dihubungi melalui telepon selulernya juga tak berhasil.

Selanjutnya, pada Senin (21/7) wartawan Siwalima Gusty Riberu yang saat itu mengetahui keberadaan Rettob dan langsung menghubungi­nya melalui telepon selulernya untuk mengkonfirmasi hal tersebut.

Setelah mengangkat teleponnya, Rettob langsung mengatakan, apa yang ditulis itu tidak benar. “Saya tidak main mata dengan pengusaha,” tegas Rettob sambil mematikan teleponnya.

Namun beberapa saat kemudian yang bersangkutan bersama sejumlah stafnya datang menghampiri Gusty yang saat itu sementara berada di samping ruang PPID Pemkot. 

Bertemu Gusty, Rettob langsung mengeluarkan kata-kata ancaman. “Saya dan keluarga saya yang ada di TNI AL sementara mencari untuk membunuh kamu, tinggal tunggu waktu saja, jadi hati-hati,” tegas Rettob.

Rettob juga mengatakan, tidak ada bukti di lapangan adanya aktivitas bongkar muat pada siang hari.

“Kalau kamu punya bukti, masih ada aktivitas bongkar muat pada siang hari, kamu tulis sembarang saja, keluarga saya sementara mencari kamu setiap hari,” teriak Rettob.

Gusty kemudian mencoba untuk menjelaskan, bahwa apa yang ditulis adalah pernyataan anggota DPRD, Sekkot dan juga Inspektorat, termasuk hasil pantauan di lapangan. Karena itu, jika merasa keberatan silahkan menyampaikan hak jawab.

Namun apa yang dikemukakan Gusty tak digubris. Rettob tetap mengeluarkan ancaman untuk tetap membunuh Gusty. Bahkan salah satu stafnya bernama Rizal ikut-ikutan mengancam.

“Kamu ini yang selalu menulis tentang Dinas Perhubungan. Kamu hati-hati,” ujar Rizal dengan nada tinggi.

Setelah melakukan pengancaman Rettob dan tiga anak buahnya kembali ke ruangan mereka.

Laporkan ke Polisi

Koodinator Liputan Harian Pagi Siwalima, Lootje Pattipawae me­nyesalkan tindakan pengancaman yang dilakukan oleh Rettob dan anak buahnya. Sebagai pejabat publik, Rettob tak sepantasnya bersikap seperti itu.

Dikatakan, publik melalui media massa berhak untuk mengkritisi kinerja pejabat pemerintah yang dinilai buruk. Karena itu, Rettob tak perlu merasa terganggung.

“Sebelumnya wartawan Siwalima sudah berupaya untuk mengkonfir­masikan yang bersangkutan, tapi tidak berhasil. Jadi saya kira prosedur jur­nalis sudah ditempuh,” tandas Patti­pawae.

Pattipawae menegaskan, Redaksi Siwalima sementara mempertimbang­kan untuk melaporkan Rettob ke polisi atas tindakan pengancaman yang dilakukannya.

“Kami akan laporkan kasus ini ke polisi atas tindakan peng­anca­man yang dilakukan, termasuk tindakan mengekang kerja pers,” ujarnya.(S-39)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon