Daerah ›› Jumlah Pasien DBD di Kota Ambon Meningkat

Jumlah Pasien DBD di Kota Ambon Meningkat


Ambon - Sejak dua bulan terakhir, jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Ambon terus meningkat. Namun sejumlah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Ambon tidak juga menuai hasil justru penderita semakin bertambah.

Pada Mei lalu jumlah penderita mencapai 103 pasien, namun dari data terakihir yang di peroleh Dinas Kesehatan Kota Ambon, jumlahnya mencapai 139 pasien. Meski jumlah pasien DBD terus meningkat, tapi Pemerintah Kota Ambon tidak juga melakukan upaya penanggulangan yang lebih signifikan.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Ling­kungan Dinas Kesehatan Kota Ambon Yusda Tuharea kepada war­tawan di Balai Kota Ambon, Jumat (10/6) mengaku, Pemkot Ambon telah berupaya untuk menang­gulanggi namun hasilnya tidak signifikan.

“Jumlah penderita memang ber­tambah, namun sebagian besar pasien DBD sudah dapat diatasi dan kini sudah normal. Olehnya kepada masyarakat diminta untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari gigitan nyamuk demam berdarah,” jelas Tuharea.

Dikatakan, selama ini Pemkot Ambon sudah melakukan sosialisasi dan juga sudah melakukan foging di sejumlah tempat, namun hasilnya tetap saja penderita bertambah.

“Jadi untuk membasmi perlu kesadaran dari masyarakat untuk tetap memberikan yang terbaik bagi lingkungannya, agar nyamuk tidak bertelur pada bak mandi atau tempat-tempat yang disenanggi nyamuk,” tandas Tuharea.

Sebelumnya Dinkes Ambon dinilai minim sosialisasi bahaya DBD, padahal anggaran untuk penang­gulangan penyakit berbahaya ini  ada untuk itu. Wakil Ketua DPRD Kota Ambon, Rustam Latupono mengatakan, Dinkes harus segera melakukan langkah preventif agar tidak lagi jatuh korban jiwa. “Saat ini Kota Ambon empat orang sudah kehilangan nyawa akibat DBD. Dinkes Kota jangan tinggal diam, harus segera mengambil langkah tepat dan cepat untuk menangani­nya,” pinta Latupoo kepada Siwa­lima di Ambon Jumat (1/4).

Politisi Partai Gerindra itu men­desak Dinkes Kota Ambon proaktif melakukan sosialisasi bahaya DBD akibat perilaku yang tidak sehat. “Intinya, Dinkes itu harus tanggap terhadap segala kemungkinan terja­dinya korban yang lain dengan me­maksimalkan peran mereka, apa­lagi ada anggarannya untuk sosiali­sasi,” tegas Latupono.

Pada periode Januari-pertengahan bulan Mei tahun ini Dinas Kese­hatan Kota Ambon menemukan 103 kasus Demam Berdarah. Masyarakat yang terserang DBD ini tersebar pada seluruh wilayah di kota ini.

Juru Biacara Pemkot Ambon Joy Adriaansz mengungkapkan, berda­sarkan catatan Dinkes, jumlah pasien DBD dari Januari hingga 4 Mei berjumlah 95 kasus kemudian pada 18 Mei bertambah delapan kasus, sehingga total sampai de­ngan hari ini (kemarin-red) kese­luruhannya terdapat 103 kasus dan tujuh pasien di laporkan meninggal dunia.

“Tujuh  pasien yang meninggal masing-masing satu warga Pandan Kasturi berumur dua tahun, atu warga Soya berumur lima tahun, dua warga Passo masing-masing ber­umur 1,9 tahun dan enam tahun, satu warga Batu Merah berumur tujuh tahun, satu warga Wayame berumur delapan tahun, serta satu warga Talaga Raja berumur 10 tahun,” urai Adriaansz, kepada wartawan di Balai Kota Ambon, Rabu (18/5).

Dengan kejadian ini, kata Adria­ansz, pemkot sangat prihatin deng­an meningkatnya jumlah kasus DBD saat ini. untuk itu terhitung sejak tanggal 9-20 Mei, pemkot meng­instruksikan kepada seluruh SKPD untuk turun langsung ke desa/ne­geri dan kelurahan untuk melakukan sosialiasi terkait deng­an penyakit ini.

Jumlah kasus DBD pada tahun ini termasuk cukup banyak, hal ini terjadi akibat dari masyarakat yang kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar.

“Membersihkan bak air dan tempat penampungan air lainnya belumlah cukup, karena nyamuk bisa kembali ke tempat tersebut sehingga masyarakat harus jaga kebersihan setiap hari,” ujarnya.

Selain itu, kata Adriaansz, foging atau pengasapan yang dilakukan pemkot pada kawasan yang rawan DBD juga, merupakan altenatif untuk pemberantasan nyamuk namun itu semua kembali ke pribadi masing-masing masyarakat.

Oleh sebab itu diharapkan agar masyarakat yang menemukan ada­nya gejala terserang DBD seperti panas tinggi, terdapat bercak-bercak merah pada tubuh langsung dihim­bau untuk langsung ke puskesmas atau ke rumah sakit terdekat untuk ditanggani.

“Masyarakat terkadang enggan untuk laporkan ke petugas kese­hatan atau puskesmas terdekat hal inilah yang dapat membuat penyakit ini menyebar ke penderita lain,” tuturnya.

Dijelaskan, seluruh SKPD, baik itu dinas, badan maupun kantor sudah diterjunkan dan hingga kini sosia­lisasi yang mereka lakukan pada 31 desa/negeri dan kelurahan namun masih tersisah 19 desa yang belum.

Ada sejumlah kawasan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan yang berbahaya, karena penyebaran penyakit ini sangat cepat sekali menular. (S-39)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon