Visi ›› Jangan Tebang Pilih

Jangan Tebang Pilih


Pasca kasus dugaan korupsi pembangunan Water Front City Kota Namlea naik ke tahap penyidikan, tim penyidik Kejati Maluku dan Kejari Buru intens melakukan pemeriksaan saksi-saksi. Pemeriksaan dipusatkan di Kejari Buru agar mempermudah penyidikan.

Naiknya status hukum proyek APBN senilai Rp 4.911.700.000 ini berdasarkan hasil ekspos tim penyidik bersama Kepala Kejati Maluku, Manumpak Pane, pada Kamis 14 September 2017 lalu.

Dalam ekspos itu, tim penyidik memaparkan hasil penyelidikan dan berbagai temuan yang diperoleh beserta bukti dan dokumen pendu­kung. Kesimpulannya, proyek  yang dikerjakan PT Aego Media Pratama sarat masalah. Pekerjaan perusahaan milik Jafar Pelu  ini tak sesuai kon­trak. Bahkan ada yang diduga fiktif.

Menyusul naik statusnya pena­nganan kasus dugaan korupsi proyek Water Front City Namlea, Kepala Kejati Maluku, Manumpak Pane lansung menerbitkan Surat Perintah Penyidikan Nomor: 08/S.1/Fd.1/09/2017 tanggal 15 September 2017.

Saat penyelidikan, tim penyidik sudah mengantongi banyak dugaan ketidakberesan dalam proyek itu. Sebut saja, pekerjaan pemancangan tiang  untuk mengganti pondasi talud sepanjang 140 meter. Tetapi tidak dikerjakan. Item ini diganti dengan penimbunan batu dan tanah dari buangan sisa proyek bandara Namniwel di Desa Sawa. Padahal untuk pemancangan 300 tiang, berdiameter 60 centimeter dialokasikan anggaran sebesar Rp 2,6 miliar. Kendati fiktif, namun  dilaporkan pekerjaan rampung 100 persen.

Ketidakberesan lain adalah proses lelang yang dilakukan hanya formalitas belaka. Skenario sudah diatur untuk memenangkan PT Aego Media Pratama.

Perusahaan yang berada  di Jalan Talang RT 06 Lesane, Kota Masohi,  Kabupaten Maluku Tengah ini dipakai oleh Sahran Umasugi untuk mengerjakan proyek Water Front City itu. Mengingat ia adalah  anggota DPRD, ia lalu memakai temannya, Memet Duwila sebagai pengawas lapangan proyek tersebut.

Pasca naik penyidikan, Direktur PT Aego Media Pratama, R Latuconsina adalah orang yang dicecar pertama oleh tim penyidik. Setelah itu, sejumlah pihak terkait lain dipanggil, diantaranya  Sri Juriyanti selalu PPK, Memet Duwila dan Munir Letsoin. Tim penyidik memerlukan keterangan Munir Letsoin, karena ia juga terlibat dalam pekerjaan Water Front City Namlea. Truk-truknya dipakai untuk mengangkut timbunan ke kawasan proyek itu.

Bukti-bukti dugaan korupsi dalam proyek Water Front City Kota Namlea semakin kuat, setelah tim penyidik bersama ahli dari Politeknik Negeri Ambon melakukan pemeriksaan fisik pada Selasa 26 September lalu.

Dalam pemeriksaan itu, ditemuan ada kekurangan volume pekerjaan pada 134 buah tiang pancang, dengan nilai yang lumayan besar.  Temuan itu, sudah di tangan tim penyidik.

Publik berharap penyidikan kasus proyek Water Front City Kota Namlea transparan. Semua borok dibuka terang menderang. Tak boleh ada yang ditutupi. Begitupun dengan pemeriksaan. Jangan terapkan sistem tebang pilih. Semua pihak yang terkait dengan proyek sarat masalah ini harus dipanggil, termasuk Sahran Umasugi. Sebab, tak ada yang kebal hukum.

Publik berharap, Kejati Maluku konsisten menegakan hukum secara profesional dalam penanganan kasus korupsi. Siapapun dia, harus dijerat jika terlibat . (*)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon