Hukum ›› Jaksa Tuntut Warga Tawiri 9 Tahun Penjara Diduga Bunuh Warga Laha

Jaksa Tuntut Warga Tawiri 9 Tahun Penjara


Ambon - Gerald Hanoatubun alias Bu Ge (25), warga Desa Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon dituntut sembilan tahun penjara denda Rp 50 juta subsider enam bulan kurungan di Pengadilan Negeri (PN) Ambon Senin (7/12).

Terdakwa kasus pembunuhan terhadap Syaril Laturua ini oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. JPU dalam tuntutanya me­ngatakan, perbuatan terdakwa me­lang­gar pasal 338 jo pasal 340 KUHP.

Sidang dipimpin majelis hakim yang diketuai Christina Tetelepta didam­pingi hakim anggota Ameye Yam­beyapdi dan  M Syamsudin La Hasan. Terdakwa yang didampingi Penasihat Hukum (PH), Thomas Wattimury tampak tenang ketika mendengarkan tuntutan JPU.

Usai pembacaan tuntutan oleh JPU, majelis hakim menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda men­dengarkan pembelaan (pledooi) dari terdakwa. Meski begitu, kelurga korban ngamuk lantaran tuntutan hukum terhadap terdakwa sangat rendah. Ibu korban, Ny Metubun rupanya mengingkan terdakwa ditun­tut 20 tahun penjara agar sebanding dengan perbuatannya.

“Sangat tidak adil, kok terdakwa hanya dituntut sembilan tahun. Mestinya dituntut 20 tahun penjara,” teriaknya, di halaman samping Kantor PN Ambon.

Teriakannya itu sempat mendapat­kan perhatian dari pengunjung PN saat itu. Namun, tak lama kemudian  emosi ibu korban itupun reda ketika dilerai oleh pegawai PN Ambon.

Sebelumnya JPU,  Asmin Hamja da­lam dakwaannya mengatakan, pada tanggal 14 Juli 2014 sekitar pukul 20. 00 WIT, di Desa Laha, terdakwa selesai mengikuti ibadah pelayanan laki-laki, terdakwa kembali ke rumah neneknya kemudian terdakwa duduk dengan pa­man terdakwa yang biasa dipanggil Bu­ken sambil meneguk minuman jenis sopi sebanyak dua botol selama dua jam.

Setelah itu pamannya kembali ke rumah sementara terdakwa menuju ke tempat duduk yang biasanya ter­dakwa bersama teman-temannya duduk bersama-sama. Saat itu ter­dakwa mendengar ada yang berteriak ‘Gerald dapat pukul di Auri’ namun dengan perkataan itu, terdakwa tidak menghiraukannya namun saat itu tiba-tiba datang saksi Silvero dan mengatakan ‘katong pigi sudah’ dan dijawab oleh terdakwa’kamong pigi sudah beta mau main kartu’. Saat itu terdakwa hanya menonton beberapa orang yang sementara bermain kartu di tempat duduk. Kemudian saat terdakwa menonton, terdakwa merasa gelisah karena mendengar saksi Gerald yang dipukul warga Laha. Tiba-tiba terdakwa langsung mengambil sebilah parang pendek dengan cara menyem­bunyikan/menyelipkan/memasukan ulu parang yang terbuat dari kayu yang isi parang tersebut terbuat dari logam pada saku belakang sebelah kanan celanan jeans berwarna hitam.

Selanjutnya, kata Hamja, melihat si­tuasi warga Desa Laha yang ingin me­nyerang pemuda Tawiri, terdakwa pun bersembunyi di semak-semak dekat Mes TNI AURI dan saat itu ada se­orang warga Desa Laha yang menga­yun­kan sebilah parang panjang ke arah­nya tetapi ayunan parang terse­but tidak mengena terdakwa. Saat itu terdakwa berdiri dari tempat per­sem­bunyiannya kemudian mencabut sebi­lah parang yang sudah diselipkan­nya itu dan langsung menggerakan tang­an­nya memotong korban sebanyak sa­tu kali dan mengena pada wajah al­marhum. Saat itu pula almarhum terjatuh ke tanah dan setelah terdakwa melaku­kan pemotongan, terdakwa langsung melarikan diri kearah perkampungan Desa Tawiri. (S-16)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon