Hukum ›› Dugaan Korupsi BOS, Jaksa Periksa Guru SDN Lilibooy

Dugaan Korupsi BOS, Jaksa Periksa Guru SDN Lilibooy


Ambon - Penyidik Kejari Ambon Rabu (3/9) memeriksa D Molle, salah satu guru pada SDN 1 Lilibooy Kecamatan Leihitu Barat Kabupaten Malteng. Ia diperiksa terkait kasus dugaan korupsi dana BOS pada sekolah tersebut.

Sesuai jadwal pemanggilan, mestinya tiga orang guru pada SDN 1 Lilibooy diminta kete­rangan oleh penyidik. Namun karena dua orang berhalangan hadir, maka hanya satu orang atas nama D Molle yang meme­nuhi panggilan penyidik.

“Sesuai jadwal, memang tiga orang dipanggil untuk diperiksa hari ini (kemarin red-). Dua tidak bisa hadir karena ada kegiatan di sekolah, sehingga mereka memintakan untuk ditunda dulu. Sedangkan satu saksi lainnya yang penuhi panggilan itu sudah langsung kita ambil keterangan­nya,” ungkap Kasi Pidsus Kejari Ambon, Marvie de Queljoe, ke­pada Siwalima, di Kantor Kejari Ambon, Rabu (3/9).

Diungkapkan, dua orang guru yang berhalangan hadir membe­rikan keterangan dalam kasus korupsi dana BOS SDN 1 Lilibooy tahun 2010-2014 itu yakni Julian Tulaseket dan Rahel Tulaseket.

Untuk diketahui, kasus dugaan korupsi dana BOS SDN 1 Liliboy Tahun 2010-2014, senilai Rp 320 juta itu, jaksa menemukan  pengguna­an­nya tidak diperuntukan bagi kepen­tingan sekolah, justru digunakan untuk  berfoya-foya.

Diduga dana tersebut dihabiskan oleh Kepsek, M Huka di tempat-tempat hiburan seperti  karaoke. Informasi yang dihimpun, sejak ta­hun 2010- 2014, SDN 1 Liliboy men­dapat kucuran dana BOS setiap tahun senilai Rp 80 juta. Dana itu tetap dibiarkan parkir, dan tidak digunakan untuk operasional se­kolah, tetapi ludes di tempat hiburan malam.

“Dari hasil pemeriksaan yang dikumpulkan ternyata dana tersebut dihabiskan Kepsek di salah satu karaoke di Kota Ambon,” ujar sum­ber di kejaksaan, kepada Siwalima, Selasa (1/7). 

Sementara Kajari Ambon, Herlie Robert Ilat yang dikonfirmasi meng­akui, kasus dugaan korupsi dana BOS di SDN 1 Liliboy dilaporkan oleh LSM sejak bulan Mei lalu,  dan langsung ditindaklanjuti.

“Setelah kita terima laporan, kita langsung membentuk tim dan melakukan penyelidikan terhadap kasus ini,” ungkap Ilat.

Ia menjelaskan, saat ditingkat penyelidikan tim penyidik telah memeriksa sekitar sembilan saksi diantaranya bendahara dana BOS, M Tulaseket dan Kepsek, M Huka.

Dari pemeriksaan saksi-saksi, ditemukan adanya indikasi kerugian negara karena ditemukan laporan pertanggungjawaban yang fiktif.

“Kita sudah mengantongi bukti-bukti adanya indikasi kerugian negara dalam kasus ini termasuk juga telah mengantongi calon tersangkanya, sehingga kasus ini sudah ditingkatkan ke penyidikan,” ujar Ilat. (S-16)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon