Hukum ›› Jadikan Anak Budak Seks, Lelaki Ini Divonis 10 Tahun

Jadikan Anak Budak Seks, Lelaki Ini Divonis 10 Tahun


Ambon - Pengadilan Negeri Ambon Senin (16/4), menja­tuhkan vonis 10 tahun pen­jara kepada Yabes Le­tisel, terdakwa kasus per­setubuhan terhadap anak kandungnya sendiri.

Vonis tersebut, lantaran warga Kopertis Kecamatan Sirimau Kota Ambon ini terbukti secara sah dan meyakinkan menyetubuhi anak kandungnya dan menjadikannya budak seks selama 9 tahun sejak korban berusia 16 tahun.

Selain vonis penjara, majelis hakim yang dike­tuai Leo Sukarno didampi­ngi hakim anggota, Christina Tetelepta dan Jimmy Wally juga membebankan lelaki paruh baya ini, membayar denda sebesar Rp36 juta sub­sider 1 tahun kurungan.

“Mengadili, menjatuhkan hu­kuman penjara kepada ter­dakwa Yabes Letisel (40) de­ngan hukuman penjara selama 10 tahun dan dibebankan, mem­bayar denda Rp36 juta sub­sider 1 tahun kurungan,” kata majelis hakim saat membacakan amar putusan ayah bejat ini.

Dalam amar putusannya, majelis hakim mengatakan terdakwa terbukti melanggar pasal 81 ayat (1) Undang-un­dang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Un­dang-undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindu­ngan anak jo Pasal 64 KUHP.

Usai pembacaan vonis ter­sebut, JPU Kejati Maluku Nita Tehuayo dan Penasehat Hu­kum terdakwa, Dino Ulise­lang menyatakan menerima putusan majelis hakim tersebut.

Vonis mejelis hakim lebih ringan dibandingkan tuntutan JPU yang menuntut terdakwa dengan hukuman 12 tahun penjara dan dibebankan mem­bayar denda Rp36 juta, subsider 10 bulan kurungan.

Perbuatan ayah bejat ini dilakukan, sejak 2009 silam kala itu korban masih berusia 16 tahun, tak sampai disitu korban ternyata masih terus melakukan perbuatan asusila terhadap anak kandungnya, hingga hamil dan melahirkan anak dari perbuatan haram, pada awal 2015 lalu.

Tak puas pelaku kembali melancarkan aksi bejatnya, saat anaknya sudah masuk di salah satu perguruan tinggi di Kota Ambon tahun 2017. Tak terima dengan perlakukan sang ayah bejat itu, korban kemudian menceritakan kepada paman­nya saat ia berlibur ke Manado pertengahan 2017 lalu.

Setip kali melakukan per­setubuhan, korban selalu dian­cam akan dibunuh jika sampai memberitahukan kejadian yang dialaminya itu kepada orang lain. Karenanya dia tidak berani mela­porkan penderitaan yang diala­minya itu kepada siapapun ter­masuk kepada ibunya. (Mg-1)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon