Ambon - Sekretaris Fraksi Golkar DPRD Kota Ambon Max Pattiapon sangat prihatin dengan kondisi sejumlah infrastruktur pendidikan yang teremdam banjir maupun endapan lumpur akibat bencana alam yang terjadi Rabu (1/8).
Sejumlah sekolah sampai saat masih ditutupi endapan lumpur yang terbawa banjir sehingga menyebabkan siswa diliburkan dan proses belajar mengajar tidak berjalan.
Pattiapon mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon agar segera memprioritaskan pembersihan fasilitas pendidikan yang hingga kini masih terendam endapan lumpur.
“Saya sangat prihatin dengan kondisi gedung-gedung sekolah yang masih terendam lumpur dan banjir seperti yang terjadi juga di SMA 8 Hutumuri ataupun sejumlah SD lainnya, sehingga fasilitas pendidikan yang mengalami bencana harus segera dibersihkan,” ungkap Pattiapon kepada Siwalima di Baileo Rakyat Belakang Soya, Selasa (7/8).
Anggota Komisi III DPRD Kota Ambon menegaskan aktivitas persekolahan harus menjadi prioritas utama dalam penanganan pasca bencana agar dapat memaksimalkan proses belajar di sekolah yang mengalami bencana.
“Ini sangat tidak wajar jika sekolah dliburkan tanpa batas waktu akibat bencana. Bagaimana jadinya generasi muda kita jika hal ini berlangsung lama. Bisa saja pemerintah sendiri membodohi generasi kita, sehingga harus sesegera mungkin ada langkah cepat dari pemkot,” tandasnya.
Ia mengatakan untuk menangani masalah tersebut minimal pemkot harus bisa berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) maupun juga pemerintah desa serta kelurahan agar dapat bergotong royong membersihkan fasilitas pendidikan yang masih tertutup material banjir.
Sebelumnya diberitakan Infrastruktur SDN 24 dan SDN 39 di kawasan Skip, Kecamatan Sirimau maupun SMAN 8 Ambon, Kecamatan Leitimur Selatan, hingga kini masih rusak total dan penuh lumpur akibat diterjang banjir bandang, Rabu (1/8) lalu.
Akhirnya seluruh proses belajar mengajar pada dua sekolah tersebut menjadi lumpuh total, bahkan siswa diliburkan tanpa ada batas waktu yang ditentukan.
Kondisi sekolah tersebut juga sangat memprihatinkan karena sebagian besar halaman sekolah masih penuh dengan endapan lumpur dan hingga kini belum dibersihkan.
Bukan itu saja, peralatan meja dan kursi yang dipakai siswa untuk belajar ternyata sebagian besar patah akibat diterjang banjir. Beberapa meja dan kursi yang masih baik justru terpaksa digunakan sebagai jembatan penyeberangan antar satu blok ruangan ke blok ruangan yang lain karena halaman khususnya lapangan upacara masih penuh dengan endapan lumpur dan tumpukan sampah yang belum diangkut.
Bahkan para siswa kedua SD tersebut jika dipaksakan ke sekolah, maka bisa saja akan terjatuh dalam endapan lumpur maupun tumpukan sampah yang telah menimbulkan bau yang menyengat.
Endapan lumpur juga masih memenuhi areal sekolah bahkan ruang kelas SMAN 8 Ambon, di Hutumuri, Kecamatan Leitimur Selatan. Akibat banyaknya lumpur dan material baik tanah maupun batu di dalam sekolah, mengakibatkan aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut terhambat. (S-34)