Daerah ›› Harga Minyak Goreng di Ambon tak Sesuai HET

Harga Minyak Goreng di Ambon tak Sesuai HET


Ambon - Harga minyak goreng ditemukan di sejumlah pasar tradisional di Ambon ter­nyata tidak sesuai dengan harga enceran tertinggi (HET).

Di pasar Mardika misal­nya ditemukan harga minyak goreng per liter masih Rp 13 ribu. Sedangkan di Hypermart Maluku City Mall (MCM) ditemukan harga minyak goreng Rp 12 ribu per liter. Nilai ini sudah sesuai HET.

“Tadi (kemarin) di pasar kami temukan harga minyak goreng Rp. 13 ribu, itu artinya belum sesuai dengan HET. Tapi di swalayan harga sudah sesuai HET. Jadi untuk yang di pasar tradisional, Dis­perindag harus bisa me­minta kepada pedagang untuk me­nu­runkan harga minyak goreng tersebut,” himbau Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Iklim Usaha dan Hu­bungan antar Lembaga, Su­han­to saat melakukan sidak di Pasar Mardika dan sejumlah swalayan di Kota Ambon Selasa (10/4).

Suhanto didampingi Kepala Disperindag Provinsi Maluku Elvis Pattiselano, Kepala Dis­pe­rindag Kota Ambon, Pieter Leuwol dan staf Kemendag. Sidak tidak hanya mengontrol harga minyak goreng, tapi harga bawang juga menjadi perhatian.

Olehnya, Kemendag ber­upaya akan pasok bawang baik bawang merah maupun bawang putih ke Ambon. Di Pasar Mardika ditemukan har­ga bawang mengalami kenai­kan yang cukup signifikan. Harga bawang putih Rp. 32 ribu/kg dari sebelumnya Rp. 26 ribu/kg. Sedangkan ba­wang merah Rp.38 ribu/kg dari sebelumnya Rp. 20 ribu/kg.

Sementara untuk harga kebutuhan pokok lainnya dalam kondisi stabil, dimana tak ada yang mengalami pe­rubahan begitupun harga daging segar.

“Untuk harga bawang kita akan bicarakan dengan ma­sing-masing SKPD yang ada di Maluku ini, untuk bagai­mana tetap menjaga stok. Stok ba­wang putih kami peme­rintah bisa tangani karena itu diim­port. Sedangkan bawang me­rah pemda dan kita harus ber­sama-sama bekerja sama untuk mencari solusi bagai­mana menangani kondisi stok. Hal ini juga akan dibicarakan didalam rakor nanti,” kata Suhanto.

Meminta

Suhanto juga meminta ke­pada tim satgas pangan Provin­si Ma­luku mengawasi dengan ketat peredaran beras menje­lang bulan  Ramadhan. Peng­awa­san penting dilakukan, ka­rena ditakutkan ketika beras bulog yang digelontorkan kepada masyarakat dengan kualitas medium yang bagus kemu­dian oleh oknum-oknum ter­tentu dire­packing ke dalam bungkusan premium kemu­dian dijual kembali.

“Saya minta satgas pangan memperhatikan betul pereda­ran beras di masyarakat,” pinta Staf Ahli Menteri Per­dagangan Bidang Iklim Usaha dan Hubungan Antar Lem­baga, Suhanto kepada warta­wan di lantai 7 kantor Guber­nur Maluku, Selasa (10/4).

Ia mengaku, biasanya men­jelang Ramadhan Perum Bu­log menggelontorkan beras kepada masyarakat. Dan be­ras yang disebarkan atau diedarkan itu medium.

“Kita sudah cek beras yang disebar ke pasar itu beras me­dium dengan kualitas bagus sehingga meminta betul pe­ng­awasan dari satgas pa­ngan,” tegasnya.

Satgas pangan ini terdiri dari beberapa instansi baik peme­rintah maupun  aparat ke­amanan didalamnya. “Jangan sampai ditemukan adanya pe­rubahan atau repacking beras kemasan medium  menjadi premium kemudian di jual ke pasar,” tegas Suhanto.

Dikatakan, jika ditemukan ada pelaku seperti ini harus dikejar dan diproses aparat penegak hukum. Kontrol satgas pangan juga sangat penting menjelang hari-hari besar keagamaan.

“Mari kita hindari dengan pe­ngawasan betul-betul oleh sat­gas pangan melawan oknum-oknum seperti ini,” harapnya.

Suhanto mengaku beras bulog yang diedarkan itu kua­litasnya bagus dalam rangka stabilitasi pangan di masya­rakat. “Dengan mengelurakan beras medium diharapkan ketika sampai di masyarakat dan mereka mencari, dengan sendirinya beras premium akan turun harganya,” ung­kap Suhanto. (S-39/S-40)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon