Daerah ›› Gubernur Minta Warga Jaga Keamanan Pasca Insiden Batu Koneng

Gubernur Minta Warga Jaga Keamanan


Ambon - Pasca insiden yang menewaskan Subhan Marasabessy warga Batu Koneng, RT 001/RW 04, Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Gubernur Maluku, Said Assagaff meminta warga setempat jaga keamanan.

Gubernur tidak menginginkan masyara­kat­nya terpancing dengan kejadian tersebut, namun ia berharap masyarakat tenang dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak kepolisian.

“Saya kira kita hentikan sampai disini, jangan lagi ada gerakan-gerakan untuk membuat daerah ini tidak aman. Kita pro­ses hukum bagi mereka yang bersalah ada jalur hukum, ada aturan hukum, aturan negara yang harus kita ikuti,” ungkapnya kepada wartawan kemarin di Ambon.

Kepada warga Batu Koneng diminta untuk tenang  dan menahan diri serta membantu  pemerintah untuk menciptakan daerah yang tetap aman dan nyaman. “Saya harapkan kepada masyarakat untuk semua dapat menahan diri, agar daerah kita tetap aman,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, sehari setelah peristiwa pengeroyokan yang berujung tewasnya warga Batu Koneng, RT 001/RW 04, Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Subhan Marasabessy, polisi menangkap satu pelaku berinisial ED.

ED yang adalah warga Hitu Lama, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah ini berhasil dibekuk atas koordinasi polisi dengan raja setempat.

“Satu pelaku sudah kita amankan, hasil pemeriksaan saksi serta kita juga ber­koordinasi dengan raja Hitu, sehingga raja sendiri yang menuntun pihak kepolisian untuk mengamankan pelaku,” jelas Kapolres Pulau Ambon dan Pp. Lease, AKBP Sucahyo Hadi kepada warta­wan di Mapolres Pulau Ambon, Rabu (12/4).

Kapolres dan beberapa anggotanya turun lagi ke Desa Hitu untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk menangkap pelaku lainnya yang identi­tasnya sudah dikantongi. “Hari ini, saya akan ke desa Hitu untuk membicarakan peristiwa ini, sekaligus berkoordinasi soal pelaku lainnya yang identitasnya sudah kita kantongi, harapan saya masalah ini bisa terselesaikan dan tidak merembet,” kata hadi.

Hadi menambahkan, sebanyak 9 saksi telah diperiksa terkait tindak kekerasan yang menewaskan Subhan Marasabessy dan menyebabkan dua orang lainnya luka-luka itu.

Nyawa Subhan melayang setelah dikeroyok oleh sekelompok warga Desa Hitu, Selasa (11/4). Tindak kekerasan bersama yang merenggut nyawa lelaki 42 tahun itu, terjadi sekitar pukul 10.30 WIT, yang dipicu oleh masalah tanah.

Kabag Ops Polres Pulau Ambon dan Pp. Lease, Kompol Bachri Hehanussa kepada wartawan di TKP menjelaskan, peristiwa berdarah itu, berawal saat sekelompok warga dari Desa Hitu datang memasang patok dan tanda larangan melakukan aktivitas di salah satu lokasi di kawasan Batu Koneng. Mereka datang meng­gunakan mobil pick up dan beberapa se­peda motor. “Awalnya datang sekelompok pemuda mereka mengklaim tanah yang merupakan TKP adalah milik mereka, sehingga mereka membawa tulisan tanda larangan melakukan aktivitas di tanah tersebut,” jelas Hehanussa.

Melihat tindakan tersebut, datang warga sekitar Said Salahutu dan Sayuti Marasabessy. Keduanya lalu menegur sa­lah satu diantara mereka. Tindakan seke­lompok warga Hitu dinilai semenamena, karena memasang patok dan tanda larangan bukan di wilayah mereka.

“Teguran warga sekitar tidak didengar para pelaku, mereka  justru marah dan kemudian menganiaya Said dengan memukulnya menggunakan batu dari belakang kepala sehingga korban terjatuh,” ungkap Hehanussa.

Sayuti mencoba menolong, tetapi ia juga babak belur dihajar. Tak lama kemudian datang Subhan Marasabessy. Ia juga datang untuk menolong, tetapi malah dikeroyok. Subhan dipukul membabi buta hingga tak sadarkan diri.

Melihat Subhan tak sadarkan diri, kelompok warga Hitu buru-buru mening­gal­kan kawasan Batu Koneng.

Warga sekitar kemudian membawa ketiga korban ke Rumah Sakit Bhayang­kara Tantui. Tetapi nyawa Subhan tidak bisa tertolong akibat luka parah yang di­alaminya. Usai mendapat laporan, per­sonil gabungan TNI dan Polri langsung tu­run ke TKP. Sejumlah titik diamankan untuk meng­antisipasi meluasnya kejadian tersebut.

“Polres minta bantuan dari TNI, dibantu juga 733 dan Ditsabhara untuk menga­man­kan beberapa titik di Kota Ambon dan Waiheru  selain TKP, hal ini dalam rangka mengantisipasi meluasnya peristiwa ini. Kurang lebih 100 personil gabungan me­lakukan pengamanan,” jelas Hehanussa.

Hehanussa menambahkan, keja­dian tersebut sementara diselidiki. Pos keamanan juga akan ditempatkan di Batu Koneng. (S-43)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon