Hukum ›› Empat Saksi Korupsi Adik Eks Bupati SBB Dihadirkan Jaksa

Empat Saksi Korupsi Adik Eks Bupati SBB Dihadirkan Jaksa


Ambon - Jaksa penuntut umum Kejari Piru, Djino Talakua dan Sesca Taberima menghadirkan empat saksi kasus korupsi proyek pem­bangunan puskesmas rawat inap Uwen Pantai, Kecamatan Taniwel Timur, Kabupaten Seram Bagian Barat, Senin (12/3), di Pengadilan Tipikor Ambon.

Keempat saksi tersebut yaitu, mantan Kepala Inspektorat Kabupaten SBB Alex Sander Titawano, Indra Maruapey, Mu­hammad Tuharea dan Farhan Latu­tua­pariga selaku koordinator pengawasan

Mereka dihadirkan sebagai saksi bagi terdakwa Johanis Octovianus Putti­leihalat yang adalah adik kandung eks Bupati SBB, Jacobus F Puttileihalat, bersama dua terdakwa lainnya, Mohammad Zein Pattimura selaku PPK dan Direktur CV Sarana Teknik, La Saleh.

Saksi Muhammad Tuharea dan Farhan Latuparaga menuturkan, berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengawasan lapangan atas proyek yang didanai lewat DAK Tahun Anggaran 2016, pada Dinas Kesehatan SBB sebesar Rp1,2 miliar sudah sesuai RAB. Bahkan, tak ada masalah di proyek itu.

“Jadi dari hasil pengawasan dan pemeriksaan yang dilakukan, jauh sebelum masa perawatan tidak ditemukan kejanggalan maupun, kekurangan dalam proyek itu,” kata mereka di hadapan ketua majelis hakim, Pasti Tarigan.

Saksi Indra Maruapei mengakui, dalam proses pemeriksaan ternyata proyek pembangunan puskesmas rawat inap Uwen Pantai, sudah selesai seratus persen dan tak ada masalah. Hanya saja, terdapat sejumlah kloset yang belum sempat terpasang, tetapi untuk keseluruhan proyek sudah selesai seratus persen.

“Memang proyeknya sudah selesai seratus persen, tinggal beberapa kloset yang belum sempat terpasang,” akuinya.

Sementara mantan Kepala Inspektorat SBB, Alex Sander Titawano menjelaskan, kalau dirinya hanya menerima laporan, terkait selesainya proyek tersebut dari tiga saksi lainnya yang saat itu ditugaskan sebagai koordinator lapangan.

“Saya jarang ke lokasi proyek, tetapi laporan terkait selesainya proyek pembangunan Puskesmas Rawat Inap Uwen Pantai, saya dapat dari tiga saksi lainnya,” ujarnya.

Usai mendengar keterangan para saksi majelis hakim, menunda sidang  hingga, Senin pekan depan, dengan agenda masih pemeriksaan saksi.

Seperti diberitakan, pada tahun 2016 Dinas Kesehatan Kabupaten SBB melaksanakan kegiatan pembangunan puskesmas rawat inap Uwen Pantai, yang dibiayai dari DAK tahun 2016 dengan pagu anggaran sebesar Rp 1.267.075.825. Salah satu kegiatannya adalah pembangunan peningkatan non rawat inap menjadi puskesmas rawat inap pantai senilai Rp 1.170.300.000.

Setelah melalui proses lelang, CV Sarana Teknik dengan Direktur La Saleh ditetapkan sebagai pemenang dengan harga penawaran Rp 1.141.000.000.

Kemudian dibuat surat perjanjian kerja kontrak yang ditandatangani oleh Muhammad Zein Pattimura selaku PPK  dan La Saleh selaku rekanan.

Pekerjaan tersebut dilaksanakan dengan jangka waktu 120 hari kalender. Namun, hingga selesainya masa kerja, terhitung tanggal 18 Juli 2016 hingga 16 November 2016, terdakwa La Saleh tidak mengerjakan proyek tersebut sesuai kontrak. Padahal anggaran sudah dicairkan 100 persen. Tahap I  30 persen, tahap II 50 persen, tahap III 75 persen, tahap IV 95 persen dan tahap V 5 persen.

Setelah itu, La Saleh menyerahkan uang sebesar Rp 551 juta kepada terdakwa Johanis Puttileihalat selaku pelaksana proyek, namun La Saleh tidak membuat surat kuasa ataupun sub kontrak kerja dengan Johanis.

Terdakwa La Saleh sebagai pihak ketiga tidak pernah menyampaikan laporan pertanggungjawaban pekerjaan secara tertulis kepada Mohammad Zein Pattimura selaku PPK, namun hanya disampaikan secara lisan.

Berdasarkan laporan hasil penghitung­an volume pekerjaan fisik dan penghi­tungan selisih anggaran biaya dalam pekerjaan pembangunan ditemukan pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan kontrak. Perbuatan ketiga terdakwa telah mengakibatkan negara dirugikan sebesar Rp 249.257.774,4 berdasarkan peng­hitungan penyidik. (Mg-1)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon