Hukum ›› Dugaan Korupsi Pengadaan Bibit Jeruk Distan Malteng akan Diekspos

Dugaan Korupsi Pengadaan Bibit Jeruk Distan Malteng akan Diekspos


Masohi - Kejaksaan Negeri (Kejari) Masohi dalam waktu dekat ini akan melakukan ekspos kasus dugaan korupsi pengadaan bibit jeruk pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) yang menggunakan dana APBD II Tahun 2008 senilai 750 juta.

Pasalnya, dalam proses penyidikan kasus ini, Kejari Masohi telah menemukan adanya unsur-unsur yang memenuhi korupsi baik perbuatan melawan hukum maupun merugikan keuangan negara, sehingga tim penyidik harus melakukan ekspos untuk menentukan siapa yang paling bertanggung jawab dalam kasus tersebut.

"Kasus proyek bibit jeruk ini hanya menunggu tim melakukan ekspos untuk ditindak lanjut dan menentukan siapa yang paling bertanggung jawab, kata kasarnya kita tentukan siapa calon tersangkahnya," jelas Kepala Seksi Intelejen Kejaksaan Negeri (Kejari) Masohi, Halid Hatapayo kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (17/6).

Hatapayo mengungkapkan, sudah 99 persen melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi sehingga pihaknya hanya menunggu proses ekspos untuk menentukan calon tersangka yang selanjutnya akan ditetapkan sebagai tersangka.

Dalam penyidikan dugaan korupsi pengadaan bibit jeruk Distan Malteng, lanjut Hatapayo, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, di antaranya mantan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malteng, M Usemahu, kontraktor Halija Tuasikal dan Pimpinan Proyek (Pimpro), Ngatmin Syarief.

Selain itu, Kejari Masohi juga telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah petani penerima bantuan bibit jeruk yang tersebar pada 14 kecamatan di Kabupaten Malteng diantaranya, kelompok tani di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS), penangkar anakan bibit jeruk di Desa Gemba, Kecamatan Kairatu, Kabupaten SBB, enam orang petani antara lain, penangkar bibit anakan jeruk dua orang, Siswoyo dan Karyono, empat orang kelompok tani yaitu, Aming Sahupala (Desa Holo), Hasanudin (Desa Sela Sekate), Martkus Pelatimu (Desa Tananahu) dan Obeth Titihelamo (Desa Makariki).

Kendati mantan Kepala Dinas Pertanian dan Kabupaten Malteng telah diperiksa, ungkap Hatapayo, namun pihaknya akan memanggil kembali untuk diperiksa jika dalam proses penyidikannya masih butuh keterangan tambahan darinya.

"Kita telah periksa pak Usemahu mantan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Malteng beberapa hari lalu, dan jika telah diekspos namun masih memerlukan keterangan kita akan panggil kembali," jelas Hatapayo.

Menurut Hatapayo, Usemahu sangat koperatif bahkan berjanji akan memberikan data-data tambahan bagi pihak Kejari Masohi.

"Dia (Usemahu-red) katakan jika tim masih perlukan data tambahan apabila diperlukan akan datang lagi," ujar Hatapayo.

Untuk diketahui, Kejari Masohi pada Jumat (25/6) telah melakukan ekspos proyek pengadaan bibit jeruk di Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Malteng. Dari hasil ekspos tersebut, Kejari Masohi telah memperoleh bukti-bukti adanya dugaan korupsi proyek bermasalah tersebut, sehingga ditingkatkan ke penyidikan.

Proyek pengadaan bibit jeruk pada Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Malteng ini tersebar pada 14 kecamatan. Proyek ini diduga bermasalah, karena pada beberapa desa belum menerima kekurangan bibit jeruk tersebut. Padahal kontraktor telah mencairkan anggaran 100 persen.

Proyek pengadaan yang harusnya diselesaikan pada tahun 2008 itu, ternyata hingga Januari 2009 Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Malteng melalui rekanan tidak mendistribusikan kepada beberapa desa seperti Desa Liang, Kecamatan Salahutu yang mengalami kekurangan bibit sekitar 5200 pohon.

Hal yang sama juga terjadi di Desa Tananahu, Kecamatan Amahai juga mengalami kekurangan bibit sebanyak 300 pohon. Karena kekurangan itu, maka petani penerima bantuan belum menandatangani berita acara. (S-24)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon