Hukum ›› Dugaan Keterlibatan Brigadir Faisal Yusuf Masih Diusut Kasus 4 Polisi Narkoba

Dugaan Keterlibatan Brigadir Faisal Yusuf Masih Diusut


Ambon - Penyidik Ditresnarkoba Polda Maluku masih meng­usut dugaan keterlibatan anggota Polres Buru, Bri­gadir Faisal Yusuf dalam kasus narkoba 4 rekannya yang telah diciduk lebih dulu.

Brigadir masih berstatus saksi dan wajib lapor ke Propam Polda Maluku.

“Masih sebagai saksi. Nanti kita tentukan. Sementara dia masih kita kembangkan terus,” kata Direktur Resnarkoba Polda Maluku, Kombes Thein Tabero saat dikonfirmasi Siwalima, Kamis (30/3).

Tabero mengatakan, pengemba­ngan penyidikan masih dilakukan, dan dalam waktu dekat status Bri­gadir Faisal Yusuf ditentukan.

“Nanti tunggu saja tanggal main dulu. Sementara statusnya masih sak­si. Kita akan tentukan baru kita sampaikan. Intinya masih dalam pe­ngembangan terus,” ujar Tabero.

Propam Periksa Saksi

Pemeriksaan tak hanya dilakukan tim penyidik Ditresnarkoba. Tetapi Devisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Maluku juga mulai memeriksa sejumlah saksi kasus narkoba yang melibatkan empat anggota Polres Buru.

Pemeriksaan dilakukan untuk persiapan sidang profesi jika putu­san pengadilan terhadap Bripka War­di Marasebessy, Bripka Guna­wan Santoso, Brigpol Noer Rahman Sudarno, dan Bripka Abas Pelu su­dah berkekuatan hukum tetap.

“Kita minta keterangan baik ter­hadap sejumlah saksi maupun para tersangka. Jadi untuk materinya, belum itu nanti menunggu inkrah pengadilan. Kalau yang kita minta ke­terangan sekarang hanya untuk masukan saja,” jelas Kabid Propam Polda Maluku, AKBP Agus Sutrisno saat dikonfirmasi Siwalima, di Polda Maluku, Kamis (23/3).

Menurut Sutrisno, Propam harus menunggu sampai putusan inkrah baru bisa digelar sidang profesi.

“Propam nanti setelah inkrah dulu putusannya. Langsung kita proses. Karena materinya memang inkrah berdasarkan putusan dulu. Jadi kita kan tergantung putusan,” katanya.

Sutrisno menambahkan, Bripka Gu­nawan Santoso, Brigpol Noer Rah­man Sudarno, dan Bripka Abas Pelu tidak lagi ditahan, karena anca­man huku­mannya di bawah lima ta­hun. Namun setiap hari melapor ke Pro­pam. Sedangkan tersangka Brip­ka Wardi Marasebessy tetap ditahan.

“Tiga tersangka wajib melapor, ka­rena ancaman hukuman di bawah lima tahun, jadi di sini disuruh apel setiap hari disini. Jadi dalam penga­wasan kami. Kalau Marasabessy itu anca­man di atas lima tahun, karena peng­edar sehingga ditahan,” tandasnya.

Sudah Menjadi TO

Bripka Wardi Marasebessy, Brip­ka Gunawan Santoso, Brigpol Noer Rahman Sudarno, dan Bripka Abas Pelu sudah lama menjadi target operasi (TO). Sebelum menciduk mereka Sabtu (11/3) pukul 23.29 WIT, tim Satresnarkoba Polres Buru lebih dulu membekuk empat warga sipil.

Dari mulut keempat warga sipil inilah terungkap keterlibatan Bripka Wardi Marasebessy Cs yang ditang­kap sementara menjalankan tugas pengamanan di kawasan tambang emas Gunung Botak. Wardi diduga sebagai bandar barang haram ini.

“Sementara Bandar WM. Barang ini dari luar Ambon masih dalam pengembangan. Jaringan juga masih pendalaman, tidak bisa kita ngo­mong langsung. Mereka ini sudah TO, karena sudah mapping se-Maluku anggota yang terlibat tinggal cari bukti kita tangkap. Jadi awalnya kita menangkap anggota sipil dan ketika dikembangkan dapatkan para ang­gota ini. Saat digeledah barang bukti kita temukan di bawah tempat tidur WM,” beber Tabero.

Barang bukti 16 paket sabu yang dite­mukan saat penggeledahan, kata Tabero, hanya sisa dari total ba­rang bukti sebanyak 49 paket. Uang hasil penjualan senilai Rp 60 juta juga telah disita.

Barang bukti lain yang disita adalah  satu buah dompet warna coklat, satu buah baju kaos oblong warna coklat, satu pembungkus rokok Sampoerna Avolution, empat  buah korek api gas, satu buah kotak kanebo berisi bong (alat pengisap sabu) yang terbuat dari kaca, sedotan plastik (pipet), dan tiga lembar tisu, handphone sebanyak 8 buah juga turut diamankan. Terdiri dari, merk Oppo 2 buah, Samsung 4 buah, Nokia 1 buah dan merk Mito 1 buah. “Mereka menjual sabu ini de­ngan seharga Rp 2,5 juta per paket,” kata Tabero.

Tersangka Bripka Wardi Marasa­bessy dijerat pasal  112 ayat (2) dan pasal 114 ayat (2) UU Nomor 35 ta­hun 2009. Pasal 112 ayat (2) dengan anca­man pidana penjara paling singkat 5 tahun, dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling ba­nyak Rp 8 miliar rupiah ditambah 1/3. Sedangkan pasal 114 ayat (2) ancaman pidana mati, penjara seumur hidup, paling singkat 6 tahun, paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar ditambah 1/3.

Bripka Gunawan Santoso dikenai pasal 114 ayat (1). Ancaman pidana penjara seumur hidup, penjara paling singkat 5 tahun, paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 1 miliar rupiah dan paling banyak Rp 10 miliar rupiah.

Ia juga dijerat pasal 127 ayat (1) huruf a dengan ancaman pidana penjara 4 tahun, dan pasal 131 de­ngan ancaman pidana penjara 1 ta­hun dan denda Rp 50.000.000.

Brigpol Noer Rahman Sudarno diganjar pasal 127 ayat (1) huruf a, dengan pidana penjara selama empat tahun. Ia juga disangkakan pasal 131, dengan ancaman pidana penjara 1 tahun dan denda Rp 50.000.000.

Sedangkan Bripka Abas Pelu di­sangkakan pasal 131 dengan anca­man pidana penjara 1 tahun denda Rp 50.000.000. Hingga kini mereka masih mendekam di Rutan Brimob Polda Maluku, Tantui.

Empat Warga Juga Ditahan

Empat warga yang ditangkap terkait sindikat jaringan narkoba empat anggota Polres Buru juga telah dita­han. Proses hukum mereka ditangani oleh Satresnarkoba Polres Buru.

“Awalnya menangkap orang sipil Arifudin alias AR pegawai swasta di Namlea, selanjutnya AR berkem­bang ke RG yang kemudian diinte­rogasi menerangkan dari barang itu didapat dari AA  dan dikembangkan ternyata barang didapat dari tersangka (Wardi Marasabessy),” jelas Tabero.

Hal ini juga diakui oleh Kapolres Buru, AKBP Leo Simatu­pang. Keem­pat warga tersebut dikenakan pasal 127 ayat (1) dengan ancaman pidana penjara selama empat tahun.

“Sementara kita proses dan sudah ditahan. Kita kenakan pasal pema­kai dan saat ini sudah kita amankan. Ada empat kita amankan,” tandas Kapolres. (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon