Daerah ›› DPRD & Pemkab Malteng Bakal Tinjau Lokasi Terkena Dampak Pencemaran Lingkungan

DPRD & Pemkab Malteng Bakal Tinjau Lokasi


Ambon - Adanya puluhan keluar­ga yang terkena dampak limbah tambak udang milik PT Wahana Lestari Inves­tama (WLI), Kampung Roho, Arara, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Malteng, akan segera ditin­daklanjuti oleh DPRD dan Pemerintah Kabupaten Malteng.

Walaupun hal ini baru di dengar, namun Anggota DPRD Malteng Dapil Seram Utara, Taslim Kalidupa menegaskan DPRD dalam waktu dekat bersama dengan Dinas Ling­kungan Hidup Malteng akan turun ke lokasi.

“Jujur, saya baru mengetahui hal ini, akan segera kita tindaklanjuti, kami bersama dengan Dinas terkait, Lingkungan Hidup tentunya akan segera ke lokasi untuk mengecek benar atau tidak informasi tersebut,” kata Taslim kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Kamis (20/4).

Menurutnya, selama ini, tidak pernah ada keluhan dari warga di Kampung tersebut. Bahkan selama ini PT WLI tidak pernah memiliki masalah terkait dengan pengelolaan limbah.

“Mungkin Roho Pantai, karena Roho itu ada dua. Mungkin yang dipantai nanti akan kami cek, karena sampai saat ini tidak ada laporan atau aduan, dan PT WLI juga tidak ada masalah,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT WLI, Karel Albert Ralahalu mem­bantah adanya hal tersebut.

Kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Kamis (20/4), Karel apa yang disampaikan oleh Anggota DPD asal Maluku John Pieris tidak benar adanya. “Itu tidak benar,” tandasnya

Sebelumnya, puluhan keluarga yang berada di Kampung Roho, Arara, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Malteng terkena dampak limbah tambak udang milik PT WLI.

Hal ini diungkapkan Anggota DPD asal Maluku John Pieris kepa­da Siwalima di Ambon, kemarin. Ia mengaku masalah ini ia temukan saat melakukan reses beberapa waktu lalu di daerah tersebut,

Menurutnya, aktivitas pabrik udang yang beroperasi di Kawasan Arara Seram Utara memberikan dam­pak buruk terhadap lingkungan sekitar. “Puluhan warga yang men­diami pesisir pantai Kampung Roho kini sudah terserang penyakit gatal-gatal. Warga memanfaatkan ali­ran sungai yang ada untuk keperluan mandi dan mencuci,” kata Pieris yang prihatin dengan kondisi 44 Kepala Keluarga di Kampung Roho Arara.

Ia mengaku melihat sendiri, kondisi puluhan keluarga di sana. Anak-anak hingga orang dewasa tidak luput dari penyakit kulit akibat sungai yang dicemari limbah. “Saya saksikan sendiri. Kulit anak-anak dan orang tua yang ada diserang gatal-gatal, mereka mengaku air sungai yang ada sudah tercemar limbah, “ ungkapnya.

Berdasarkan hasil pertemuan dengan warga setempat, ternyata menurut Pieris, hulu sungai dimanfaatkan pihak perusahaan untuk mengaliri limbah hasil produksi pabrik udang dan secara otomatis limbah itu mengalir ke hilir menuju pantai. Banyaknya limbah yang dibuang membuat sungai yang ada sudah tercemar dan sudah tidak lagi dipakai warga untuk keperluan keseharian.

“Dulu warga menggunakan su­ngai tidak sekedar untuk keperluan mencuci dan mandi tapi juga untuk dikonsumsi. Sayangnya sejak peru­sahaan itu ada, secara perlahan kualitas air makin menurun dan sudah tidak steril digunakan untuk keperluan apapun,” ujarnya. (S-43)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon