Daerah ›› Diintervensi Walikota, Polisi Bebaskan Gustaf Nendissa

Diintervensi Walikota, Polisi Bebaskan Gustaf Nendissa


Ambon - Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease ter­nyata tidak  konsisten dalam menangani kasus kekerasan terhadap anak dibawah umur. Buktinya, Gustaf DS Nendissa diam-diam dikeluarkan dari tahanan.

Staf ahli Walikota Ambon Bidang Pemerintahan dan Pelayanan Publik yang sudah ditetapkan tersangka ini, dibebaskan karena diduga diinter­vensi oleh walikota. 

Kasubbag Humas Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Ipda Juskisno Kaisupy yang dikonfir­masi, beralibi kasus kekerasan  anak dibawah umur yang menjerat Gustaf Nendissa masih berjalan. Hanya saja tersangka diberi penangguhan penahanan.

“Belum selesai. Masih jalan. Se­mentara yang bersangkutan diberi penangguhan penahanan,” ujar Kaisupy.

Soal intervensi walikota, sehingga Gustaf Nendissa dilepas, mantan Kapolsek Teluk Ambon ini enggan berkomentar. Ia kembali beralasan, kasus ini masih diproses.

Gustaf Nendissa menembak GL dengan senapan angin, hanya gara-gara korban mengambil buah mangga yang jatuh di pekarangan rumah pelaku di kawasan Gunung Nona Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

Lengan kanan bocah yang masih du­duk di kelas II SD itu luka akibat penembakan tersebut. Nendissa dijerat dengan pasal 80 UU Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman 3,6 tahun penjara.

Ia juga dijerat dengan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, dengan ancaman hukuman 2,8 tahun penjara.

Walikota Yakin Bebas

Dugaan adanya intervensi walikota dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak dibawah umur ini, terlihat dari pernyataannya beberapa waktu lalu kepada wartawan.

Walikota begitu yakin anak buah­nya, Gustav DS Nendissa dibebas­kan. Menurut walikota dua periode ini, belum keluarnya Nendissa dari rutan  Polres Ambon hanya hal teknis saja.

Walikota mengaku, dirinya yang menjadi mediator untuk menyele­saikan kasus ini dengan keluarga korban.

“Kalau masih ditahan itu, adalah soal teknis saja. Kan sudah ada kesepakatan dan saya sendiri yang mediasi itu. Menurut saya, itu persoalan prosedur saja mungkin dan tunggu waktu saja pasti Nen­dissa keluar rutan,” tandas walikota kepada wartawan, usai melakukan pertemuan dengan Honorer K2 di Gedung Xaverius, Jumat (1/3).

Walikota tetap ngotot jika pe­nembakan bocah 8 tahun itu adalah kelalaian.  Ia beralasan yang ditembak Nendissa kucing.

“Jadi sifatnya pengaduan, se­hingga tak perlu diproses hukum. Memang awal pak Nendissa salah, karena ia tidak pernah tembak orang tapi tembak kucing, makanya orang tua anak ini tidak terima anaknya dikatakan kucing, sehingga mela­porkan hal ini. Menurut saya kalau lihat dari kesepakatan, mungkin tunggu waktu saja,” ujar walikota meyakinkan.

Ngotot Kirim SPDP

Sebelumnya, entah pernyataan siapa yang harus dipegang. Pihak Kejari Ambon mengaku, surat pemberitahuan dimulainya penyi­dikan (SPDP) atas nama Gustaf DS Nendis­sa belum diterima. Anehnya, Polres Ambon ngotot sudah mengi­rim SPDP tersangka penganiayaan anak dibawah umur ini ke Kejari Ambon. 

“SPDP sudah kirim ke jaksa. Kata penyidik sudah dikirim, nah seka­rang proses masih jalan,” kata Ka­subbag Humas Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Kease, Ipda Jul­kisno Kaisupy kepada Siwalima, Rabu (6/3).

Kaisupy mengakui, ada permo­honan pencabutan perkara dari keluarga korban. Namun masih dievaluasi.

“Intinya masih jalan. Ada surat pencabutan itu memang hak korban tetapi akan dilihat dulu,” ujarnya.

Sebelumnya, Kasi Pidum Kejari Am­bon, Achmad Atamimi saat dikon­firmasi mengaku, pihaknya belum menerima SPDP Gustaf Nendissa.

“Sampai saat ini kami belum menerima SPDP tersangka Gustaf DS Nendissa dari penyidik Reskrim Polres Ambon,” kata Achmad Atamimi, kepada Siwalima, di ruang kerjanya, Selasa (5/3).

Ia mengatakan, prinsipnya JPU tetap menunggu SPDP Gustaf Nendissa. Staf ahli Walikota Ambon Bidang Pemerintahan dan Pela­yanan Publik itu, ditetapkan  sebagai tersangka sejak Kamis (21/2).

“Itu kewenangannya penyidik mau berikan SPDP atau tidak, yang pastinya kami akan menunggu hingga SPDP kasus penembakan bocah berumur 8 tahun itu diberikan penyidik,” ujarnya.

Minta Usut Tuntas

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maluku dan Lingkar Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LAPPAN) Ambon, meminta Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease mengusut tuntas kasus penembakan bocah berumur 8 tahun oleh Gustaf DS Nendissa.

KPAI dan LAPPAN menyayang­kan pernyataan walikota yang menyebutkan penembakan tersebut kelalaian.

 ”Sudah jelas itu adalah kekerasan terhadap anak, dari kejadian itu akan membuat anak menjadi trauma. Oleh karena itu, kasus ini saya dukung dan minta polisi untuk tuntaskan,” tandas Ketua KPAI Maluku, Su­san­to kepada Siwalima, Sabtu (2/3). 

Menurut Susanto, penempakan bocah berinisial GL oleh Nendissa menggunakan senapan angin merupakan tindak kekerasan terhadap anak. Karena itu, walikota jangan mengintervensi polisi untuk membela anak buah yang salah.

“Walikota jangan membela anak buahnya, itu kan sudah jelas pelaku telah menembak anak tersebut, jadi harus diproses hukum. Jika seperti ini maka semua orang bisa mela­kukan hal yang sama dan menga­takan itu kelalaian,” ujarnya.

Hal senada ditegaskan Direktur LAPPAN Ambon, Baihajar Tualeka. Kasus penembakan bocah 8 tahun itu harus dituntaskan.

“Itu kekerasan terhadap anak apalagi telah menggunakan senjata api, dan ini harus diproses hukum,” tandas Tualeka.

Sebelumnya, anggota Komisi I DPRD Kota Ambon, Asmin Mat­doan juga meminta walikota tidak membela anak buahnya yang salah. “Siapapun harus taat kepada hukum, tidak boleh ada pembelaan,” tandas Matdoan kepada Siwa­lima, di Baileo Rakyat Belakang Soya, Jumat (1/3).  (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon