Politik ›› Pengamat Unpatti: Curang Akibat tak Siap Kalah

Pengamat Unpatti: Curang Akibat tak Siap Kalah


Ambon - Sejumlah kecurangan yang terjadi saat pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Maluku ternyata bukan saja akibat tidak maksimalnya penyelenggara, namun juga dipe­ngaruhi akibat kandidat yang ber­tarung tidak siap kalah tetapi selalu siap menang.

“Mereka hanya bertarung untuk menang sehingga sejumlah kecu­rangan terjadi,” ungkap pengajar Fa­kultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FI­SIP) Universitas Pattimura (Un­patti) Paulus Koritelu, Rabu (3/7).

Dikatakan, rentang kendali wilayah di Provinsi Maluku yang terlalu amat membuat kecurangan bisa saja dilakukan saat pilkada. “Ini semua serba sulit sehingga penyele­nggara juga sulit melaksanakan tugas mereka secara baik dalam menyelenggarakan maupun melaku­kan pengawasan. Menurut saya rentang kendali dengan kerumitan masing-masing daerah ini sangat membuat para penyelenggara pilkada dalam kondisi yang tidak berdaya,” katanya.

Selain itu, Koritelu juga mengaku, faktor kedekatan antara penyele­nggara dengan pasangan calon juga turut berpengaruh. “Itu memang menjadi relatif. Apalagi ketika tingkat kesejahteraan penyelenggara juga kurang maka kemudian yang terjadi adalah kedekatan itu menjadi pen­dekatan yang paling efektif. Akhir­nya fakta efektifitas penyeleng­garaan dan pengawasan terhadap pilkada tidak terjadi,” ungkapnya.

Koritelu menjelaskan, seharusnya para politisi maupun kandidat harus menyadari upaya untuk melahirkan demokrasi yang sebenarnya sangat mahal namun kemudian ternodai hanya karena sebuah kekuasaaan.

“Ini sesuatu hal yang perlu di­harus bawahi semua kalangan. Saya kira pendidikan politik ada kaitannya dengan tingkat rasionalitas. Masya­rakat sudah dewasa karena banyak fakta yang menentukan. Secara rasional masyarakat akan sanggup menilai tataran pendidkan politik bahwa kandidat ini dengan visi misi mampu menjawab kebutuhan-kebu­tuhan di Maluku, dengan kondisi kepualauan yang ada tetapi faktanya suara dan aspirasi masyarakat itu tidak akan sama sampai pada level perhitungan suara di PPK maupun KPU.  Jadi kualitas pendidikan politik masyarakat semakin cerdas ditengah segala kekurangan yang ada karena mereka mampu menilai, mereka akan menilai sendiri apa yang sebenarnya terjadi dalam penyelenggaraan pilkada,” jelasnya. (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon