Daerah ›› Cabut Segera Kontrak PT SI, Pemprov Harus Gandeng Investor Baru

Cabut Segera Kontrak PT SI, Pemprov Harus Gandeng Investor Baru


Ambon - Pemprov Maluku saat ini masih menunggu PT Spacecon International (PT SI) untuk melakukan rapat guna memutuskan nasib perusahaan itu untuk membangun Victoria Park Tower.

Walau begitu, Pemprov sudah saatnya mencabut kontrak PT SI dan menyambut keinginan dua investor yang sudah melirik lahan yang semula direncanakan akan dibangun Victoria Park Tower.

Adanya keinginan dua investor tersebut, membuat Akademisi FISIP Unidar, Mahmudin meminta Pemprov untuk lebih baik bereaksi cepat menyikapi keinginan tersebut.

“Jika ada dua investor yang sudah ingin sekali menanamkan modal­nya di lahan ini maka Pem­prov mestinya harus reak­tif menyikapinya. Jangan lagi mengulur waktu untuk PT SI yang sudah sekian tahun berproses namun pembangunannya belum ada tanda-tanda. Untuk itu segera cabut kontrak PT SI,” jelas Mahmudin kepada Siwalima di Ambon, Jumat (11/7).

Dikatakan, keinginan dari kedua investor tersebut untuk mengem­bangkan lahan milik Pem­prov  jika disikapi secara baik maka akan mening­katkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Seandainya harus tu­nggu PT SI guna diadakan evaluasi maka pasti perusahaan tersebut akan mengukur waktu. Kenyataan sudah menun­jukkan kontrak kerjasama yang sudah dijalin bertahun-tahun saja tidak ada pembangu­nannya. Bahkan IMB saja tidak mampu di­bayar, bagaimana perusahaan itu mau membangun. Nilai IMB yang kecil saja tak mampu untuk dibayar, bagaimana dengan investasi pembangunan yang jauh lebih besar,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, disaat PT SI tak mampu mem­bangun Victor Park Tower diatas lahan milik Pemprov Maluku, ternyata sudah ada dua investor yang tertarik untuk mengelolanya.

Pemprov Maluku bahkan sudah menyurati Direksi PT SI untuk hadir menemui gubernur, namun hal itu tak pernah dipenuhi.

“Saya sudah membuat surat resmi untuk minta yang bersangkutan hadir pada hari Senin (7/7) tetapi paginya ada­nya fax masuk dari peru­sahan yang bersangkutan me­reka minta tunda perte­muan sampai setelah selesai lebaran. Saya serius, saya bilang jangan setelah lebaran, kapan saja mereka tentukan waktu dan jamnya,” tandas Gubernur Maluku Said Assa­gaff kepada wartawan usai melakukan pencoblosan di TPS 10 Kelurahan Amantelu, Rabu (9/7).

Dikatakan, Pemprov telah memberikan ketegasan, namun ada kabar perusahaan tersebut ingin serius untuk kembali membangun.

“Pemprov sudah memberi­kan ketegasan namun kabar terakhir dari perusahaan ter­sebut bahwa mereka ingin se­rius membangun. Mereka juga mau datang untuk menyele­sai­kan pembayaran IMB yang masih belum dilunasi,” katanya.

Pemprov, menurutnya, te­tap memberikan kesempatan, namun saat ini sudah ada dua investor yang akan mena­nam­kan modal di lahan yang se­mula akan dibangun Victoria Park Tower.

“Kita kan berikan kesem­patan dulu kepada PT SI. Jika memang tidak sanggup, maka sudah ada dua investor yang berminat. Keduanya yaitu PT Artha Graha juga minta untuk membangun studio lahan ter­sebut. Selain itu ada juga satu investor yang ingin mem­ba­ngun restoran,” ungkapnya.

Assagaff menegaskan, jika sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh Pemprov untuk melakukan per­temuan dan tidak dihirau­kan lagi maka akan diputus­kan kontraknya. “Kalau sam­pai dengan batas waktu maka pasti kita akan putus kon­traknya, itu pasti,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebe­lum­nya, setelah mangkir dari panggilan Pemprov Maluku Senin (7/7) lalu, ternyata Di­reksi dan Komisaris PT SI ber­sedia untuk menemui Guber­nur Maluku, Said Assagaff.  Namun mereka meminta per­temuan untuk membahas kon­trak lahan yang akan dibangun Victoria Park Tower itu digelar usai Lebaran.

PT SI yang bermimpi mem­bangun Victoria Park Tower setinggi 40 lantai di lokasi eks Taman Victoria, Ambon sejak awal memang selalu membuat masalah. Bahkan sejak pem­bayaran Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Bangunan yang rencana­nya dibangun dengan mene­lan biaya sebesar Rp 1.086. 301.700. 000 ini, sesuai keten­tuan biaya IMB-nya sebesar Rp  12.877.965.000, namun ke­mu­dian direduksi oleh peme­rintah kota (pemkot) hingga Rp 2,2 milyar.

Yang anehnya, untuk melu­nasi biaya IMB yang telah dire­duksi dari biaya yang se­harusnya tersebut saja hing­ga saat ini tidak mampu, pada­hal mereka bermimpi mem­bangun gedung yang nilai­nya mencapai trilyunan rupiah.

Pemkot memang lagi-lagi memberi kemudahan sehi­ngga perusahaan tersebut hanya membayar IMB Rp 2 milyar, namun ironisnya, selama berjalannya waktu PT SI baru membayar Rp 500 juta pada Oktober 2012 lalu dan sisanya belum juga dilunasi hingga saat ini.

Sisa pembayaran yang be­lum dilunasi tersebut diberi waktu oleh Pemkot Ambon hingga 28 Desember 2012, dan jika kewajiban tersebut tak dapat dipenuhi oleh PT SI, maka pemkot akan menge­luarkan larangan pembangu­nan gedung Victoria Park. Namun akhir Desember 2012 PT SI tak mampu melunasi sisa biaya IMB sebesar Rp 1,5 milyar.

Pemprov sebelumnya telah memberikan deadline hingga akhir Mei 2014 kepada PT SI, untuk membangun Victoria Park Tower. Jika dalam teng­gang waktu tersebut tidak ada aktivitas maka kontrak akan diputuskan.

Berbagai upaya pende­katan telah dilakukan antara pemprov dengan PT  SI ini namun ternyata tidak ada res­pons dan itikad baik sehingga jika sampai dengan tenggang waktu yang diberikan lalu tidak ada aktivitas maka kon­trak akan diputuskan dan Pemprov akan mencari investor lain untuk menanamkan modalnya di kawasan itu.

Konon gedung yang renca­nanya bertingkat 40 tersebut akan dibangun sejak tahun 2012 lalu namun ternyata hingga saat ini tak ada akti­vitas pembangunan. Masya­ra­kat pun merasa dibohongi dengan rencana pembangu­nan gedung yang digembar-gemborkan sejumlah kala­ngan tersebut.

Diduga pembangunan Vic­toria Park Tower hanya men­jadi salah satu siasat dari Azis Samual untuk memuluskan kepentingan politiknya seba­gai bakal calon (balon) Gubernur Maluku periode 2013-2018 saat itu.(S-37)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon