Politik ›› Bupati Bursel: Maluku Butuh Pemimpin Muda Peringati Hari Kebangkitan Nasional

Bupati Bursel: Maluku Butuh Pemimpin Muda


Ambon - Provinsi Maluku membutuhkan pemimpin muda yang tujuannya untuk bisa mengambil kebijakan berani, dan mampu membawa perubahan bagi perkembangan pembangunan.

Hal ini diungkapkan Bupati Bursel, Tagop Sudarsono Soulisa kepada Siwalima, Jumat (19/5) disela-sela kegiatan peringati Hari Kebangkitan Nasional.

Tagop mengaku, sebagai tokoh mudah, ia siap berpartisipasi dan bertarung dengan lawan-lawan politik lainya dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku tahun 2018 mendatang.

Hal ini juga, lanjut Tagop, sebagai bentuk regenerasi guna membawa perubahan, dimana Maluku sebagai provinsi kepulauan sangat membutuhkan tokoh muda sebagai pemimpin.

Sementara dalam diskusi sebagai pemateri dalam kegiatan peringatan Hari Kebangkitan Nasional tersebut, Tagop mengungkapkan, Maluku membutuhkan sosok pemimpin muda yang bisa menjadi martir atau berani berkorban untuk rakyatnya

Menurut Tagop, kehadiran tokoh muda dianggap sangat strategis agar dapat mengambil langkah yang berani. Karena dengan melihat kondisi saat ini semestinya, tokoh muda atau generasi muda bisa membawa dampak perubahan.

Apalagi, dengan potensi sumber daya yang dimiliki Maluku, bisa dimaksimalkan dengan kebijakan-kebijakan atau langkah strategis yang berani diambil oleh pemuda.

Tagop melanjutkan, selama memimpin Bursel dua periode, banyak perubahan yang sudah terjadi. Mulai dari infrastruktur pembangunan hingga infrastruktur pendidikan, terus berkembang menjadi lebih baik.

Bupati Bursel yang hadir sebagai pemateri dalam diskusi tersebut menjelaskan, jika dilihat dari potensi sumber daya alam, Maluku memberikan sumbangsih penerimaan negara dari sektor kelautan tiap tahunnya sebesar Rp.44 Triliun. Tetapi, selama ini Provinsi Maluku tidak bisa menikmati sumbangsih dari sumber daya itu sendiri.

“Maluku merupakan provinsi yang sangat kaya akan sumber daya laut dalam hal ini ikan. Sehingga, sentral point yang paling penting ialah menjadikan Maluku sebagai provinsi kepulauan,” terangnya.

Tagop mengungkapkan, ketika Maluku dipimpin oleh Karel Albert Ralahalu, proses perjuangan untuk Maluku diakui sebagai provinsi kepulauan terus diupayakan. Tetapi, sepeninggal Karel, perjuangan tersebut sudah tidak maksimal.

Bupati Bursel ini menerangkan, apabila provinsi kepulauan itu diakui, maka hal ini bisa menjadi jalan keluar untuk memangkas angka pengangguran dan angka kemiskinan. Sehingga, Maluku harus membutuhkan pemimpin yang memang benar-benar berani untuk memperjuangkan status Maluku sebagai provinsi kepulauan.

Sementara itu, Akademisi Perikanan Unpatti Ambon, Beni Setya menilai, perkembangan pembangunan saat ini memang cukup baik. Tetapi, tidak begitu baik jika dilihat dari sektor pembangunan perikanan.

“Sebab, jika dilihat, Maluku ini merupakan provinsi yang terdiri dari kepulauan. Dan kaya akan kekayaan lautnya, tetapi kurang maksimal diperjuangkan,” kata Dosen Perikanan Unpatti Ambon, Beni Setya dalam diskusi memperingati hari kebangkitan nasional di Ambon, kemarin.

Menurut Beni, jalan satu-satunya untuk mengelola potensi kelautan yang ada, yaitu yang pertama Maluku harus diakui seba­-gai provinsi kepulauan. Dengan begitu maka harus ada terobosan-terobosan yang dilaku­-kan oleh pemimpin di massa yang akan datang untuk mem-bawa dampak baik terutama disektor perikanan.

“Untuk kon-sepnya, Maluku harus butuhkan tokoh pemimpin muda atau tokoh-tokoh pemuda yang punya visi yang bagus kedepan untuk bisa memperjuangkan agar Maluku diakui sebagai provinsi kepulauan,” tegasnya.

Sedangkan Boy Latuconsina menambahkan, upaya untuk memperjuangkan Maluku sebagai Provinsi Kepulauan sudah dilakukan sejak lama. Dan diharapkan, pemimpin dimassa yang akan datang yaitu yang terpilih di Pilgub Maluku, bisa berkorban untuk memperjuang­kan kesejahteraan masyarakat, terutama status provinsi kepulauan itu. (S-46)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon