Hukum ›› BPKP Audit Proyek Kerabat Bupati Aru

BPKP Audit Proyek Kerabat Bupati Aru


Dobo - Banyaknya proyek ber­ma­salah yang dikerjakan oleh keluarga dan kerabat Bupati Aru Johan Gonga membuat BPKP telah me­lakukan audit.

Audit tersebut dilakukan untuk dua proyek yang mendapat sorotan publik di Dobo, yaitu  Jalan Pemda-Dok Kelurahan Galay Dubu dan Jalan Rabiajala-SMAN 3 Dobo-Bandara Rar Gwa­mar Desa Wangel Kecama­tan Pulau-pulau Aru.

Sementara proyek Jem­batan Penghubung Desa Maijuring Kecamatan Aru Tengah maupun proyek Jembatan Penghubung Desa Kalar-kalar Ke­camatan Aru Selatan,  belum dilaku­kan proses audit.

“Kedua proyek jalan tersebut sudah diaudit BPKP. Saat ini kita menunggu hasilnya. Jika itu hasil audit terbukti tidak sesuai maka akan dilakukan tindak lanjut sesuai de­ngan ketentuan,” tandas Plt Kadis Pekerjaan Umum Kabupaten Kepu­lauan Aru, Edwin Nanlohy kepada Siwalima di Dobo, Kamis (20/4).

Menurut Nanlohy, jika pekerjaan kedua proyek dimaksud terbukti tidak sesuai dengan standar teknis kerja, maka ia membuka tangan untuk dilakukan pemeriksaan dan penyidi­kan oleh aparat penegak hukum.

“Kita bersedia diperiksa oleh aparat penegak hukum agar kon­traktor yang mengerjakan proyek di­maksud dapat mempertanggungja­wab­kan pekerjaannya,” tandasnya.

Ia menjelaskan anggaran proyek Jalan Pemda-Dok Kelurahan Galay Dubu senilai Rp 750 juta sudah di­cair­­kan 100 persen, sementara untuk Jalan Rabiajala-SMAN 3 Dobo-Bandara Rar Gwamar Desa Wangel Kecamatan Pulau-pulau Aru senilai Rp 2,185 milyar belum dicairkan 100 persen, ka­rena pekerjaannya tak sesuai kontrak.

“Fisik pekerjaan kedua proyek itu memang tak sesuai standar kerja. Hal itu merupakan tanggung jawab man­tan Plt Kadis PU Marthinus Lengam yang kini menjabat sebagai Asisten II Sekda Aru,” jelasnya.

Sementara khusus untuk proyek Jembatan Penghubung Desa Maiju­ring, Nanlohy mengaku PPK-nya yang bernama Lisyawati sudah diperika penyidik Polres Aru. Namun detail proyek tersebut maupun per­kembangan pemeriksaan, Nanlohy mengarahkan untuk dikonfirmasi ke PPK. “Untuk jembatan, konfirmasi saja ke PPK,” ujarnya.

Begitu juga dengan proyek Jem­batan Penghubung Desa Kalar-kalar Kecamatan Aru Selatan, Edwin me­ngaku belum mengetahui hal terse­but, karena pekerjaannya dilakukan sebelum ia menjabat Plt Kadis PU.

Indikasi Penyelewengan

Sementara Dinas PU Aru,  diminta untuk tidak menutupi borok indikasi korupsi dalam sejumlah proyek bermasalah di Dobo.

Sebagai  dinas terkait harus trans­paran menjelaskan soal proyek-pro­yek yang diduga bermasalah apalagi menjadi temuan DPRD. 

“Dinas PU Aru harus transparan jelaskan proyek-proyek bermasalah. Jangan bersikap tutupi karena indi­kasi ada unsur KKN dibalik penger­jaan proyek padahal proyek tersebut sangat diinginkan warga,” tandas Praktisi Hukum Edison Sarinamela kepada Siwalima melalui telepon selulernya,  Kamis (20/4).

Menurut Sarimanela jika suatu pe­kerjaan yang baru saja selesai diker­jakan ataupun tidak ada alias fiktif maka sudah jelas indikasi korupsi. 

“Kalau pekerjaan usai langsung rusak berarti diduga tidak sesuai bestek apalagi jika indikasi fiktif. Apa­rat penegak hukum harus ditin­daklanjuti karena jelas ada indikasi korupsi. Dinas PU harus transparan terkait proyek-proyek ini karena uang negara yang dikeluarkan harus di­kerjakan dengan baik,” ungkap­nya.

Sarimanella mengaku, terungkap­nya indikasi ketidakberesan proyek-proyek itu maka sudah jelas penger­jaannya tidak sesuai dengan kon­trak. Untuk itu, jaksa pada Kejari Aru harus tanggap dan segera ditun­taskan, sehingga tidak menimbulkan pandangan buruk apalagi indikasi keterlibatan pihak-pihak penguasa. 

“Kuat dugaan proyek juga tidak sesuai dengan kontrak.  Untuk itu wajib aparat penegak hukum meng­usutnya.  Sekarang kalau kerja tidak sesuai saja sudah pelanggaran hu­kum apalagi ada temuan maka apa­pun dia harus diusut,” katanya. 

Sebelumnya diberitakan, sejumlah proyek milik kerabat dan orang dekat Bupati Aru Johan Gonga berma­salah. penyidik Polres Pulau Aru se­mentara mengusut proyek jembatan fiktif yang dikerjakan adik Bupati Aru Johan Gonga.

Proyek milik Shikoa yang berma­salah itu terdapat di Desa Maijuring, Kecamatan Aru Tengah, Kepulauan Aru. Adik tiri dari Bupati Gonga ter­sebut, sebelumnya juga kedapatan mengerjakan dua proyek jalan yang tak sesuai spesifikasi teknis, padahal sudah menghabiskan anggaran mil­yaran rupiah yang bersumber dari APBD Kabupaten Kepulauan Aru tahun 2016.

Dibandingkan dua proyek jalan dimaksud, rupanya proyek jembatan penghubung di Desa Maijuring itu tak lolos dari bidikan polisi.

Pekerjaan tersebut berdasarkan dokumen dalam website LPSE Kabu­paten Kepulauan Aru, lokasi peker­jaannya di Desa Maijuring, namun diduga akibat kedekatan Shikoa dengan Bupati Gonga, membuat lokasi pekerjaan dipindahkan ke Dusun Fatujuring. 

Sesuai dokumen pada website LPSE Kabupaten Kepulauan Aru, proyek jembatan penghubung Desa Maijuring tersebut menelan angga­ran Rp 1,230 milyar yang bersumber dari APBD Kabupaten Kepulauan Aru tahun anggaran 2016.

Informasi yang dihimpun Siwa­lima, terungkap polisi rupanya men­cium aroma tak sedap dari proyek ini, setelah Shikoa ketahuan tidak me­nggunakan perusahaannya un­tuk mengerjakan proyek dimaksud.

Ia juga kemudian menggunakan CV Karya Lestari milik salah satu pengusaha lokal di Dobo untuk mengikuti proses tender sekaligus memenangkannya. Pekerjaan proyek tersebut memang dikerjakan CV Karya Lestari, sebagai imbalannya Shikoa memperoleh fee dari CV Karya Lestari yang akrab disapa Ching.

Anehnya, kendati dalam dokumen tersebut proyek berlokasi di Desa Maijuring, namun fakta membukti­kan pekerjaannya dilakukan di Dusun Fatujuring.

Shikoa sebelumnya dikabarkan mendominasi pekerjaan sejumlah proyek konstruksi di Bumi Jargaria.

Kendati begitu, banyak diantara proyek-proyek tersebut yang ber­masalah. Hingga kini proyek-proyek tak tuntas dikerjakan. Ia juga dika­barkan memiliki beberapa perusa­haan, yang digunakannya silih ber­ganti untuk mengerjakan proyek-proyek dimaksud.

Dua proyek yang mendapat sorotan publik di Dobo, yaitu  Jalan Pemda-Dok Kelurahan Galay Dubu dan Jalan Rabiajala-SMAN 3 Dobo-Bandara Rar Gwamar Desa Wangel Kecamatan Pulau-pulau Aru.

Proyek pembanguan jalan di Kota Dobo, ibukota Kabupaten Kepu­lauan Aru tak kunjung selesai, padahal ratusan milyar rupiah telah dikucurkan. Pengerjaannya ternyata tak memenuhi syarat teknis.

Saat mengerjakan proyek Jalan Rabiajala-SMAN 3 Dobo-Bandara Rar Gwamar, Shikoa dikabarkan menggunakan bendera CV Aru Buana Pratama, sementara paket jalan Pemda-Dok ia memakai PT Jar Abil.

Sementara proyek Jembatan Pe­nghubung Desa Kalar-kalar Keca­matan Aru Selatan tahun 2016 de­ngan panjang sekitar 30 meter dikerjakan oleh orang dekat bupati dengan menggunakan bendera CV Trio Alfa Lestari senilai Rp 642.200.000 tahun 2016 diduga sarat korupsi. Bagaimana tidak baru sebulan lebih proyek selesai dikerjakan, kini sudah retak.

Informasi yang dihimpun Siwa­lima di Dobo, terungkap pekerjaan ditangani oleh kontraktor Lufi Kidy Thunggal alias Akian selaku Direk­tur CV Trio Alfa Lestari, dibiayai APBD Kabupaten Kepulauan Aru tahun 2016 ini telah cair 100 persen sejak Desember 2016, namun kenya­taan pada Januari 2017 proyek ter­sebut masih dikerjakan. Padahal sesuai kalender pekerjaan mulai di kerjakan pada 23 September 2016 dan sudah berakhir pada 15 Desember 2016.

Khusus untuk proyek Jembatan Penghubung Desa Kalar-kalar sementara dibidik oleh Kejari Dobo, karen telah dilaporkan ke jaksa. (S-25/S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon