Kesra ›› BI: Sistem Keuangan Maluku Masih Stabil

BI: Sistem Keuangan Maluku Masih Stabil


Ambon - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku mencatat, sistem keuangan di Provinsi Maluku pada triwulan II tahun ini masih tetap terjaga atau dalam keadaan stabil.

Kepala Kantor BI Provinsi Maluku Bambang Pramasudi merincikan, penyaluran kredit di Maluku pada triwulan II masih didominasi oleh sektor rumah tangga sebesar 58,25% dan korporasi 12,62%. Kinerja sektor rumah tangga dan sektor korporasi tercermin pada tingkat pertumbuhan PDRB lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang membaik. Di samping itu, risiko kredit masih terjaga dengan non-performing loan (NPL) di bawah ambang batas.

“Kinerja korporasi sektor utama Maluku pada triwulan II masih tumbuh positif. Pertumbuhan kinerja korporasi pada triwulan II 2018 didukung oleh menguatnya kinerja sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, sektor konstruksi, dan sektor administrasi pemerintah. Namun, hal tersebut tertahan oleh kontraksi yang terjadi pada sektor perdagangan besar dan eceran,” urai Pramasudi dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalima, Sabtu (25/8).

Dari sisi risiko, kata Pramasudi, kualitas kredit korporasi terpantau sedikit meningkat dari 0,29% menjadi 0,30%, namun masih berada jauh di bawah ambang batas 5% dan kinerja sektor rumah tangga di triwulan II relatif terjaga. Hal ini sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan PDRB dari komponen konsumsi rumah tangga meskipun penyaluran kredit terpantau melambat.

Pada triwulan II 2018, kredit rumah tangga tumbuh 12,14% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 15,42% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sektor rumah tangga tercatat menurun, dari 10,64% (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 8,09% (yoy) pada triwulan II 2018.

“Hal ini sejalan dengan Hari Raya Idul Fitri dan periode libur sekolah selama triwulan II 2018 yang butuh pengeluaran dalam bentuk tunai. Namun demikian, kredit pemilikan rumah (KPR) tumbuh 22,86% (yoy) antara lain didorong oleh kebijakan pelonggaran loan to value (LTV) ratio BI,” ujarnya.

Selain itu, menurut Pramasudi, kredit kendaraan bermotor (KKB) juga meningkat 29,33% (yoy). Disisi lain, tingkat risiko kredit rumah tangga yang tercatat 0,72% masih dibawah ambang batas. Fungsi intermediasi perbankan Maluku pada triwulan II 2018 menurun dibandingkan triwulan sebelumnya.

Untuk Aset tumbuh 5,30% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 11,23% (yoy). Selain itu, pertumbuhan DPK pada triwulan II 2018 tercatat 2,48% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,70% (yoy). Sementara itu, penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh 10,05% (yoy), juga lebih rendah dari triwulan sebelumnya 13,31% (yoy).

“Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) tercatat meningkat dari 91,30% di triwulan sebelumnya menjadi 92,33%. Secara spasial, penyaluran terbesar kredit perbankan masih terkonsentrasi di Kota Ambon 47,22%, diikuti Kabupaten Malra 13,93%, dan Kabupaten Malteng 13,45%” rincinya.

Dari sisi pengembangan akses keuangan dan UMKM, proporsi kredit UMKM perbankan di Maluku pada triwulan II 2018 tambah Pramasudi, mencapai 29,13% dari total kredit. pertumbuhan kredit UMKM di triwulan II 2018 terpantau meningkat 18,02% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 17,42% (yoy).

Hal ini dikarenakan peningkatan pada kredit modal kerja di tengah melambatnya kredit investasi selama triwulan II 2018. Beberapa upaya telah dilakukan untuk meningkatkan akses keuangan dan daya saing UMKM, di antaranya melalui pembentukan klaster, monitoring rasio kredit UMKM, pelatihan program kewirausahaan, dan pengembangan komoditas unggulan.

“Kedepan, stabilitas sistem keuangan di Maluku secara kese­-luruhan tahun 2018 diperkirakan masih tetap terkendali di tengah dinamika perkembangan sektor eksternal maupun domestik,” tutupnya.(S-40)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon