Hukum ›› Berkas Kepala Manajer Proyek PIP Rampung

Berkas Kepala Manajer Proyek PIP Rampung


Ambon - Penyidik II Direktorat V Tipidter Bareskrim Polri merampungkan ber­kas Kepala Mana­jer Proyek PT Prima Indonesia Persada (PIP), Jo Paulus Hendry Yohan.

Tersangka kasus tindak pidana lingkungan hidup di tambang emas Gunung Botak, Kabupaten Buru ini, sudah selesai diperiksa dan berkasnya tak lama lagi masuk jaksa.

“Untuk pemeriksaan sudah dilakukan terhadap tersangka beberapa hari lalu. Sekarang ini sementara merampungkan berkasnya diupayakan minggu depan sudah kita kirim tahap I ke jaksa,” jelas Kasubdit II Direktorat V Tipidter Bares­krim Polri, Kombes Sulist­yono kepada Siwalima, melalui telepon selulernya, Jumat (15/3).

Sulistyono mengatakan, pengembangan penyidikan terus dilakukan untuk menjerat tersangka lain.

“Penyidik masih bekerja, masih melakukan pengembangan untuk memperkuat bukti-bukti,” ujarnya.

Tersangka

Seperti diberitakan, Kepala Ma­najer Proyek PT PIP, Jo Paulus Hendry Yohan ditetapkan sebagai tersangka kasus tindak pidana lingkungan hidup tambang emas Gunung Botak, Kabupaten Buru.

Paulus ditetapkan sebagai ter­sangka dalam gelar perkara tim penyidik Subdit II Direktorat V Tipidter Bareskrim Polri, Rabu (6/3).

Sebelumnya tim penyidik Bares­krim sudah mengantongi bukti-bukti kuat, baik keterangan saksi, doku­men maupun pemeriksaan fisik dari tingkat penyelidikan hingga pe­nyidikan berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/N 25/1/2019/Bareskrim, tanggal 7 Januari 2019.

Kasubdit II Direktorat V Tipidter Bareskrim Polri Kombes Sulistyono melalui Kabid Humas Polda Maluku, Kombes M Roem Ohoirat, kepada Siwalima, Kamis (7/3) menjelaskan, dalam penyidikan ditemukan bukti PT. PIP yang beralamat di Jalur H Dusun Wamsait, Desa Dava, Keca­matan Waelata Namlea, Kabupaten Buru, melakukan pengelolaan lingkungan hidup dengan tidak benar, dan melakukan open dumping limbah sIudge/taillig limbah hasil penambangan emas tanpa izin.

Tindakan PT PIP melanggar pasal 102, pasal 103, pasal 104 jo pasal 116 UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ling­kungan Hidup.

“Ini berdasarkan hasil penyidikan pemeriksaan terhadap saksi-saksi karyawan perusahaan sebanyak 13  orang,  pemeriksaan  terhadap sak­si-saksi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buru dua orang, pe­meriksaan saksi-saksi Pemerintah Provinsi Maluku sebanyak enam orang,” kata Ohoirat.

Hal ini juga diperkuat dengan pemeriksaan para ahli, masing-masing ahli Puslabfor Bareskrim Mabes Polri dua orang, ahli ling­kungan hidup/limbah B3 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alarn Universltas Indonesia Emil Budianto, ahli bidang korporasi dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta Erna Widjajati  dan ahli bidang Hukum Pidana Universitas Padjajaran Somawdaya.

“PT PIP juga tidak memiliki TPS limbah B3 sludge/tailling dan tidak menjalin kerjasama dengan pihak ketiga untuk kelola limbah B3,” beber Ohoirat.

Pakai Bahan Kimia

Seperti diberitakan, PT PIP, milik Hengky H Sirait, adalah salah satu perusahaan yang menggunakan bahan kimia berbahaya untuk mengolah emas di tambang Gunung Botak dan seki­tarnya.

Para pekerja tambang milik Sirait, yang juga  bos Amboina Hotel ini tertangkap basah oleh tim Tipidter Bareskrim Mabes Polri mengguna­kan asam sianida.

Saat tim Bareskrim turun pada Rabu (9/1), sekitar pukul 09.30 WIT dan mendapatkan para pekerja PT PIP sedang enak-enakan beroperasi meng­olah emas sistim rendaman dengan menggunakan asam sianida, yang sangat berbahaya bagi ling­kungan.

Tim itu dipimpin Kombes Sulis­tiyono.  Mantan Direktur Reskrim Polda Maluku ini datang ditemani AKBP Jarot Setiyoso, Kompol Sumarsono, AKP Parmanto, Bripka Phlegon dan Bripda C. T. Wibowo. Turut hadir juga waka­polres Bachrie Hehanussa.

Pemilik PT PIP Hengky Sirait juga sudah diperiksa tim penyidik Direktorat Tipidter Bareskrim Polri, pada Jumat (11/1).

Ia diperiksa tim penyidik yang diketuai oleh Kasubdit II Direktorat V Tipidter Bareskrim Polri, Kombes Sulistyono pukul 09.00 hingga pukul 12.00 WIT, di ruang Indag Ditreskrim­sus Polda Maluku.

Selain Sirait, tiga staf PT PIP ber­nama Johnson Sihaloho, Supangat dan Besli Sihite juga diperiksa. Mereka diperiksa bersamaan sejak pukul 10.00 hingga pukul 20.00 WIT.

Kasubdit II Direktorat V Tipidter Bareskrim Polres, Kombes Sulist­yono mengatakan, selain PT PIP,  PT. Buana Pratama Sejahtera (BPS), PT Sinergi Sahabat Setia (SSS), juga diusut dalam tindak pidana lingkungan hidup.

Dirut BPS Tersangka

Sementara dalam kasus tindak pidana pertambangan di Gunung Botak, Gogorea dan Sungai Anaho­ni, Kabupaten Buru, penyidik Subdit V Tipidter Bareskrim Polri telah me­netapkan Direktur Utama PT BPS, Mintaria Loesiahari sebagai ter­sangka. Penyidik masih menggarap bukti-bukti untuk menetapkan tersangka baru.

Para pejabat Pemprov Maluku gencar diperiksa. Mereka adalah Kepala Dinas ESDM Martha M Nanlohy, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Fauzan Chatib, Kepala Biro Hukum Henri Far-Far, dan Kabid Pertambangan Dinas ESDM June Pattikawa.

Sekda Maluku Hamin Bin Thahir juga turut dipanggil. Ia diperiksa pada Kamis (28/2).  Ini pertama kalinya, Hamin diperiksa terkait tindak pidana pertambangan emas di Kabupaten Buru. (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon