Visi ›› Berani 'Bernyanyi'

Berani 'Bernyanyi'


PPTK tahun 2008-2009 Angganoto Ura, bos PT Re­minal Utama Sakti Amir Gaos Latuconsina, dan Jhon Lucky Metubun selaku kon­sul­tan pengawas menjalani pemeriksaan Jumat, 6 Oktober 2017. Ini adalah pemeriksaan perdana, pasca penetapan mereka sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek terminal transit  Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon. 

Status hukum Ura, Amir dan Metubun naik menjadi tersangka ditetapkan dalam ekspos di Kejati Maluku pada 28 Agustus 2017 lalu. Penetapan Ura sebagai tersangka dituangkan dalam surat penetapan tersangka Nomor B-1235/s 1/Fd 1/08/2017, tanggal 28 Agustus 2017. Amir dalam surat pe­ne­tapan Nomor B-1236/S.1Fd.1/08/2017 tanggal 28 Agustus 2017. Sedangkan  Metubun dalam surat Nomor B-1237/S.1/Fd 1/08/2017, tanggal 28 Agustus 2017.

Ketiga tersangka disangka­kan pasal 2 ayat (1) atau pasal 3 jo pasal 18 UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Peru­bahan atas UU No 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

PPTK Angganoto Ura rupanya tak senang dengan penetapannya sebagai tersangka. Sebagai PPTK ia mengklaim sudah melaksanakan tanggung jawab dengan benar. Ia menuding bos PT Reminal Utama Sakti, Amir Gaos Latuconsina yang paling bertanggung jawab atas kasus dugaan korupsi proyek terminal Transit Passo. Pernyataan Ura kepada wartawan ini, sama dengan apa yang ia tegaskan kepada jaksa saat ia diperiksa.

Lalu apa kata Amir atas tudingan Ura?. Amir tak mau menanggapi secara langsung. Ia meminta untuk ditanyakan ke jaksa. Saat diperiksa masih sebagai saksi, Amir juga pernah mengklaim, kalau tidak ada korupsi dalam proyek yang menghabiskan anggaran negara lebih dari Rp 55 miliar itu. Malah ia memuji, kalau pekerjaan terminal transit sangat berkualitas.

Namun klaim Amir, dipatahkan oleh Kejati Maluku. Korps Adhyaksa juga mengklaim memiliki bukti yang kuat soal adanya borok dalam proyek sudah mangrak 10 tahun itu. Bukti-bukti itu digarap dari pemeriksaan saksi-saksi, dokumen yang disita dan juga pemeriksaan fisik proyek. Pemeriksaan fisik dilakukan sebanyak dua kali dengan melibatkan tim dari instansi teknis, yaitu pada Senin, 8 Juni dan Selasa 9 Juni 2017. Hasil pemeriksaan fisik semakin memperkuat bukti ketidakberesan dalam proyek terminal transit. Mulai dari perencanaan, pengawasan, tanpa proses tender, hingga mutu pekerjaan di bawah standar dan tidak sesuai kontrak.  Bahkan ada inidikasi dugaan mark up senilai Rp 3 mi­liar lebih selama pekerjaan tahun tahun 2008 dan  2009.

Proses penyidikan kasus dugaan korupsi proyek terminal transit Passo masih bergulir. Para tersangka juga akan kembali dipanggil. Pengadilan menjadi tempat untuk saling mengadu bukti dan mencari kebenaran. Karena itu, ketiga tersangka harus berani ‘bernyanyi’ mengungkap fakta- fakta yang sesungguhnya. Ataupun yang masih tersembunyi.

Misalnya saja soal prosedur pembayaran pekerjaan kepada kontraktor, yang harus melalui banyak tahapan sebelum anggaran dicairkan. Di mana tanggung jawab inspektorat dan panitia atau tim pemeriksa barang?. Mengapa mereka tidak dimintai pertanggungjawaban secara hukum?.  Olehnha itu, ketiga tersangka harus berani buka mulut, dan membeberkan siapa lagi yang harus bertanggung jawab.

Kejati Maluku juga harus berani untuk mengambil langkah hukum jika ada fakta hukum yang diungkap para tersangka saat mereka diperiksa atau ketika persidangan di pengadilan. Jangan mendiamkan, karena ada kepentingan tertentu.  Jika fakta hukum dibaikan, maka kebenaran yang sesungguhnya dikuburkan. (*)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon