Kriminal ›› Belum Eksekusi Uwuratuw, Kajari Saumlaki Dikecam

Belum Eksekusi Uwuratuw, Kajari Saumlaki Dikecam


Ambon - Kepala Kejari (Kajari) Saum­laki, Dedy Koesnomo dikecam lantaran belum juga mengek­sekusi mantan Wakil Bupati Maluku Tenggara Barat (MTB), Lukas Uwuratuw.

Kajati Maluku, Anton YP Harahap telah memerintahkan Koesnomo untuk segera me­ng­­eksekusi  terpidana kasus ko­rupsi proyek pengadaan enam buah kapal ikan di Dinas Ke­lautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten MTB tahun 2002 senilai Rp. 2,7 milyar itu, namun hingga kini belum juga dilakukan.

“Kami meminta agar Kajati Ma­luku segera mengevaluasi kinerja Kajari Saumlaki Dedy Koesnomo karena tidak taat terhadap perintah Kajati, mestinya Kajari Saumlaki ha­rus segera mengeksekusi Uwuratuw agar publik tidak menuding jika Kajari Saumlaki melindungi koruptor di daerah ini,” tandas Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demo­krasi (LMND) Wilayah Maluku, Ferdy Souwakil, kepada Siwalima, di Ambon, Selasa (29/5).

Dia menyesalkan sikap Kajari Saumlaki, yang tidak taat terhadap perintah atasannya.

Sementara itu, Kajari Saumlaki, Dedy Koesnomo, yang dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Rabu (29/5), tidak mengangkat teleponnya, bahkan SMS yang dikirimpun ber­ulang kali tidak dibalas.

Untuk diketahui, perintah ekse­kusi itu sudah disampaikan kurang lebih sebulan, tapi belum ditindak­lanjuti. Diduga, ada kongkalikong antara Uwuratuw dengan Kajari Saumlaki.

“Kami menduga ada konspirasi yang sengaja dilakukan antara Kajari Saumlaki dengan Uwuratuw, karena sampai saat ini juga belum juga dilayangkan surat panggilan kepada yang bersangkutan,” ujar sumber di kejaksaan, kepada Siwa­lima, Jumat (24/5).

Uwuratuw divonis  empat tahun penjara oleh Mahkamah Agung (MA) bersama mantan Kepala DKP MTB, Pieter Norimarna dan pimpro Frangky Hittipeuw.

Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Boby Palapia, kepada Siwa­lima, di ruang kerjanya, Senin (1/4), mengatakan, surat perintah untuk mengeksekusi Uwuratuw telah di­sampaikan ke Kejari Saumlaki.

“Kita berharap agar dengan ada­nya surat perintah tersebut, maka Kejari Saumlaki bisa segera mela­kukan eksekusi apalagi vonis MA tersebut sudah dikeluarkan sejak akhir tahun lalu,” ujarnya.

Pieter Norimarna dan Frangky Hittipeuw lebih dulu divonis oleh MA dengan pidana penjara selama empat tahun pada 30 September 2011 lalu.Norimarna sudah diekse­kusi ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Ambon sejak 20 April 2012. Sementara Frangky Hitti­peuw sendiri sudah menyerahkan diri pada 15 Januari 2013.

Pengadilan Negeri (PN) Ambon sudah menerima salinan putusan lengkap MA atas Uwuratuw sejak Kamis (22/11) tahun 2012.

Humas PN Ambon, Glenny de Fretes, kepada wartawan, menje­laskan, dalam salinan putusan dise­butkan, MA mengabulkan permo­honan kasasi Kejati Maluku Nomor: 195/Pid.B/2010/PN.AB tertanggal 20 Mei 2011.

MA menyatakan Lukas Uwuratuw terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dalam proyek pengadaan enam unit kapal ikan di Kabupaten MTB Tahun 2002 senilai Rp 2,7 milyar.

Menjatuhkan pidana penjara ter­hadap terdakwa Lukas Uwuratuw dengan pidana penjara selama empat tahun, denda Rp 200 juta.

Dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dikurangi seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.(S-16)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon