Hukum ›› Barang Bukti di Kantor Panwaslu Malteng Disita Jaksa Korupsi Dana Pengawasan

Barang Bukti di Kantor Panwaslu Malteng Disita Jaksa


Ambon - Jaksa menyita sejumlah barang bukti kasus dugaan korupsi dana pengawasan Pilkada tahun 2017 di Kantor Panwaslu Maluku Tengah (Malteng), Senin (13/11`).

Penyitaan dilakukan tim Kejari Malteng berlangsung pukul 10.00 hingga 13.00 WIT dipimpin oleh jaksa Virgo Siregar. Kedatangan tim penyidik ke Kan­tor Panwaslu Malteng yang tiba-tiba me­ngagetkan para komisioner dan pegawai. 

Setelah diberikan penjela­san, tim penyidik lalu meng­angkat sejumlah barang dian­taranya, laptop, printer, ka­mera canon, AC, meja, kursi, lemari, jendela, sofa, dan kursi kerja. Barang-barang ini dibeli dengan dana pengawasan Pilkada.

“Kami telah melakukan penyitaan terhadap sejumlah aset milik Panwaslu yang di­beli dari dana pengawasan Pil­kada atau tidak sesuai de­ngan peruntukannya,” kata Virgo Siregar saat dikonfir­masi Siwalima, melalui tele­pon selulernya, Senin (13/11).

Barang-barang tersebut saat  ini sudah diamankan di Kantor Kejari Malteng dan akan dijadikan barang bukti.

Sementara untuk ekspos penetapan tersangka, dijad­walkan akan dilakukan pekan ini. “Kita sudah jadwalkan pekan ini,” kata Siregar.

Status penanganan kasus ini, naik kelas dari tahap pe­nyelidikan ke penyidikan di­putuskan dalam ekspos yang digelar di Kantor Kejari Maluku Tengah pukul 16.00 hingga 18.15 WIT. 

Ekspos dipimpin Kepala Kejari  Malteng Robinson Sitorus. Hadir dalam rapat itu, seluruh kepala seksi, jaksa fungsional dan tim penyidik.

Kasus dugaan korupsi da­na pengawasan Pilkada Mal­teng tahun 2017 layak dinai­kan ke penyidikan, sebab penyidik menemukan sejum­lah bukti perbuatan melawan hukum atas pengelolaan dana nilai Rp 10,8 miliar itu.

“Setelah kami memeriksa sedikitnya 14 orang, dalam proses penyelidikan selama kurang lebih dua bulan, dite­mukan bukti  perbuatan mela­wan hukum dalam pengelo­laan anggaran 10,8 miliar itu, sehingga hasil ekpos kasus ini diputuskan naik ke tingkat penyidikan,” jelas Sitorus ke­pada wartawan, usai ekspos.

Bukti-bukti yang ditemu­kan diantaranya, bukti pem­bayaran palsu pada sejumlah kegiatan. Hal ini melanggar pasal 132 ayat 1 Permendagri 13 tahun 2016 tentang penge­lolaan keuangan daerah.

“Salah satu fakta perbuatan melawan hukum yang ditemu­kan dalam proses penyelidi­kan itu antara lain adanya bukti pembayaran yang me­ng­gunakan alat bukti asli tapi palsu. Belum lagi fakta per­buatan melawan hukum lain­nya,” ungkap Sitorus.

Temuan lainnya adalah  pada kegiatan Bimtek. Seha­rusnya peserta diberi honor  Rp 300 ribu per peserta. Na­mun yang berikan hanya Rp 50 ribu. Te­tapi dalam perta­ng­gungja­wa­ban dibuat seolah-olah diberi­kan Rp 300 ribu, dengan melampirkan bukti-bukti palsu.

“Seharusnya peserta Bim­tek diberi honor 300 ribu rupiah, namun faktanya hanya dibayar 50 ribu rupiah untuk setiap peserta, namun perta­ng­gungjawabannya memuat bukti pembayaran dengan kwi­tansi aspal dengan nilai 300 ribu rupiah,” ungkap Sitorus.

Kerugian Sementara

Hasil pemeriksaan semen­tara diduga negara dirugikan Rp 600 juta. Angka ini dapat bertambah, setelah dilakukan audit investigasi oleh BPKP.

“Untuk sementara dugaan kerugiannya itu mencapai 600 juta rupiah, angka bisa saja bertambah setelah audit in­ves­tigasi nanti. Jadi sifatnya masih sementara,” jelas Sitorus.

Disinggung soal calon ter­sangka yang sudah dikan­tongi, Sitorus mengaku, lebih dari tiga orang. Namun ia me­nolak untuk memberitahu­kan identitas mereka dengan ala­san kepentingan penyidikan.

“Sudah ada, mereka lebih dari tiga orang. Nanti saja, waktu­nya pun tidak lama, kok. Bisa jadi minggu depan atau mung­kin dua pekan lagi. Intinya kita siapkan dulu stra­tegis penyidi­kannya agar dapat diagenda­kan proses pemeriksaan untuk didalami termasuk proses pe­nyi­­taan sejumlah barang bukti nanti,” jelasnya.

Sejumlah pihak terkait su­dah diperiksa, termasuk eks Ketua Panwaslu Mal­teng, Stenly Maelissa.

Maelissa diperiksa seba­nyak dua kali di tahap penyi­dikan. Pertama pada, Selasa (26/9). Ia dicecar selama 5 jam lebih. Saat dicegat wartawan usai dipe­riksa, Maelissa tak mau banyak berkomentar. Ia beralasan tidak ada waktu ka­rena akan me­ngikuti ibadah. “Maaf saya sedang buru-buru, ini mau jam ibadah. Tapi intinya kami akan tetap koo­peratif dengan pe­nyidik,” tandasnya.

Kemudian ia diperiksa lagi, Senin (2/10) dan dicecar sela­ma 4 jam. Maelissa yang di­cegat wartawan usai diperik­sa, menolak berkomentar. Ia beralasan dalam kondisi letih. “Saya pulang dulu, cape se­kali,” katanya. (S-16)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon