Kriminal ›› Ayah Bejat Ngaku Perkosa Anak karena tak Dilayani Istri 20 Tahun Penjara Menanti

Ayah Bejat Ngaku Perkosa Anak karena tak Dilayani Istri


Ambon - Benar-benar ayah be­jat. Buang Papilaya mengaku nekad memper­kosa buah hatinya yang baru berumur 8 tahun, karena sudah ku­rang lebih lima bulan istri tak melayani kebutuhan bio­logisnya.

Usai meng­konsumsi minu­man keras, hasrat seksualnya naik. Ia gelap mata. Anaknya yang berbau kencur itu menja­di sasaran pelampiasan syahwat Buang pada Selasa (16/10) pagi sekitar pukul 03.30 WIT.

“Saya tidak pernah merasakan kehangatan seorang istri, karena istri saya sudah tinggalkan saya sejak lima bulan lalu, sehingga se­tiap mengkonsumsi miras kebu­tuhan biologis saya tinggi. Saya melakukan pemerkosaan terha­dap korban itu sekitar pukul 03.30 WIT, saat itu saya mabuk. Setelah saya habis minum saya membawa anak ke Pantai Losari dengan berjalan kaki sesampainya di lorong di dekat rumah makan lalu saya memperkosa anak saya dan saya taruh di depan BCA,” ungkap Buang kepada wartawan, di Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Rabu (25/10).

Ancaman hukuman 20 tahun penjara menanti Buang. Tim  Penyidik Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Satreskrim Polres Pulau Ambon dan Pulau pulau Lease menjeratnya dengan pasal berlapis, yaitu pasal 81 ayat 1 dan 3 UU Nomor 35 tahun 2014  tentang Perubahan atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlin­dungan Anak, pasal  287 dan pasal 285  jo pasal 64 KUHP.   

Kasat Reskrim Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, AKP Teddy kepada wartawan di Mapolres Ambon, mengatakan, berkas Buang sudah dirampung­kan oleh tim penyidik. Surat Pem­beritahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) akan dikirim ke jaksa hari ini, Kamis (26/10).

“Besok SPDP tersangka dikirim ke jaksa. Penyidik sudah meme­riksa tujuh saksi dan saat ini berkas diupayakan segera dirampungkan secepatnya,” jelas Teddy.

Sebelumnya diberitakan, Buang ditetapkan sebagai tersangka pada Selasa (24/10), setelah meme­riksa tujuh orang saksi.

“Ayah korban sudah resmi kita tetapkan sebagai tersangka ber­dasarkan LP/605/X/2017/Maluku/Res Ambon, pada tanggal 17 Oktober 2017 dan surat perintah penahanan terhitung Selasa 24 Oktober. Saksi yang diperiksa sebanyak tujuh orang termasuk tante korban yang menjaga korban di rumah sakit maupun keterangan saksi lain yang menguatkan,” jelas AKP Teddy, kepada Siwalima, di ruang kerjanya.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, lelaki 49 tahun yang bekerja sebagai tukang becak ini, ditangkap pada Senin (23/10) di kediamannya di kawasan Tanah Tinggi, Kecamatan Sirimau.

Buang lalu dicecar  pukul 16.00 hingga 21.40 WIT di ruang PPA, dan langsung ditahan di Rutan Polres Pulau Ambon. Kendati Buang tak mengakui perbuatannya, namun penyidik memiliki bukti yang cukup untuk menjeratnya. 

Teddy mengungkapkan, kakak korban yang juga menjadi saksi mengaku, tersangka Buang sudah beberapa kali mencabuli korban. Tante korban yang diperiksa, juga mengaku, kalau korban disetubuhi di kos-kosan tersangka. Setelah itu, korban yang dalam kondisi lemas dibawa dan diletakan di depan BCA Pantai Mardika.

“Berdasarkan semua ketera­ngan dan bukti maka kita resmi men­jerat tersangka dengan dike­na­kan pasal 81 e  ayat (1) dan ayat (2) UU Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, pasal 287 ayat (1) KUHP dan pasal 285 jo pasal 64 KUHP,” tandasnya.

Seperti diberitakan, korban dite­mukan di jalan Pantai Mardika pada Selasa  (16/10) sekitar pukul 05.00 WIT.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari kepolisian menye­but­kan, korban ditemukan oleh Petrus Latuputty, petugas keber­sihan Dinas Kebersihan Kota Ambon. Saat itu  ia sementara minum kopi di samping rumah makan Padang Ayah, dekat BCA Pantai Mardika. Ia lalu diberi tahu oleh salah seorang supir angkot, bahwa ada anak kecil tidur dengan berlumuran darah.

Mendengar apa yang disampai­kan sopir angkot tersebut, Latu­putty langsung berdiri dan dan ber­gegas ke tempat di mana korban berada. Lelaki 62 tahun ini kaget, melihat korban yang tergeletak dengan tubuh yang lemas, dengan darah yang keluar dari alat vitalnya hingga melumuri paha dan kaki korban.

Latuputty kemudian meminta tolong salah satu  sopir angkot Batu Merah, Muhamad Nur Sa­ngadji dan salah satu warga Mardika bernama Windy Kastanya untuk membawa korban ke Ru­mah Sakit Sumber Hidup.

Latuputty yang ternyata menge­nal korban ini langsung  meng­hubungi ayah korban. Setelah men­dapat informasi, ia menda­tangi Rumah Sakit untuk melihat kondisi putrinya yang terbaring lemas tak berdaya. Ayah korban langsung mendatangi Polres Pulau Ambon melaporkan kejadian tersebut.

Pelaku Harus Dihukum Berat

Direktur Yayasan Peli Inayana Maluku, Otte Patty meminta pelaku pemerkosaan diberikan hukuman berat. “Kami minta kasus ini harus diproses hukum hingga tuntas, pelaku harus diberikan hukuman yang seberat-beratnya, tidak boleh ada keringanan bagi pelaku agar bisa menjadi efek jera,” tandas Patty.

Sebagai seorang ayah kandung, kata Patty, seharusnya Buang Papilaya memberikan perlindu­ngan bagi anaknya. “Kalau begini, bagaimana seorang anak bisa mendapatkan perlindungan. Di rumah tidak aman, di luar pun tidak aman, terus anak mau ke mana,” ujarnya. (S-27/S-40) 



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon