Visi ›› Angkutan Publik saat Mudik

Angkutan Publik saat Mudik


MUDIK merupakan fenomena permanen setiap menjelang Idul Fitri. Karena ia merupakan prosesi rutin, manajemen mudik semestinya sudah beres sejak lama.

Akan tetapi, pemerintah yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan transportasi publik senantiasa mengulangi kesalahan yang sama setiap tahun. Walhasil, dalam prosesi mudik yang bersifat permanen itu, negara ini melakukan kesalahan permanen pula.

Kesalahan permanen itu ialah tidak berpihaknya kebijakan dan manajemen mudik untuk kepentingan umum. Pemerintah sepertinya menganakemaskan transportasi pribadi. Padahal, jumlah pengguna transportasi publik untuk mudik jauh lebih banyak dibanding pengguna kendaraan pribadi.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan pada Lebaran tahun ini, pengguna bus umum mencapai 9 juta orang, kereta api 2,91 juta orang, pesawat 2,48 juta orang, dan kapal laut 1,04 juta orang. Total pengguna angkutan umum untuk mudik mencapai hampir 15,5 juta orang. Sedangkan pengguna transportasi pribadi hanya 4 juta orang lebih, terdiri dari pengguna sepeda motor 2,47 juta orang dan mobil pribadi 1,73 juta orang.

Abainya kebijakan pemerintah pada kenyamanan transportasi publik saat mudik terlihat dari bergentayangannya calo, melonjaknya harga tiket, kelebihan penumpang, serta jadwal yang tak tepat waktu.

Transportasi publik yang paling dianaktirikan ialah kereta api. Padahal, kereta api merupakan sarana angkutan rakyat yang murah meriah. Namun, ketersediaan infrastruktur kereta api, seperti rel ganda, belum terpenuhi. Akibatnya, nyaris setiap Lebaran terjadi kecelakaan kereta api yang merenggut banyak nyawa.

Tak heran jika peminat kereta api untuk mudik menyusut 5,32% dari 3.081.532 orang tahun lalu menjadi 2.917.598 orang tahun ini. Hal itu mengakibatkan berkurangnya rangkaian kereta mudik dari 226 rangkaian tahun lalu menjadi 215 rangkaian tahun ini.

Sebaliknya, pemerintah mengutamakan pengguna kendaraan pribadi dengan menambah lajur di jalan tol dan perbaikan infrastruktur jalan lainnya.

Manajemen mudik sesungguhnya merupakan cermin kebijakan transportasi negara ini. Jika kebijakan dan manajemen transportasi terus berpihak pada transportasi pribadi, jangan salahkan jika masyarakat malas menggunakan transportasi publik untuk mudik. Jangan salahkan pula jika masyarakat berlomba-lomba membeli kendaraan pribadi untuk mudik.

Ketika para pemudik kembali ke Jakarta seusai Lebaran, kemacetan di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia bakal semakin parah. Konsumsi bahan bakar minyak pun melonjak tak terkontrol. (*)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon