Hukum ›› Anggotanya Diciduk, Kepala BNN Maluku Pasrah

Anggotanya Diciduk, Kepala BNN Maluku Pasrah


Ambon - Kepala BNN Provinsi Maluku, Brigjen Rusno Prihardito pasrah dan menyerahkan pro­ses hukum terhadap dua ang­gota polisi Brigpol Andri­yanto Saban alias AS dan  Brigpol Rome­lus Istia alias RI yang diciduk di kedia­mannya, Rabu (8/8) lalu.

Rusno menyerahkan pro­­ses hukum mereka dan anggota polisi lainnya kepada penyidik Ditresnarkoba Polda Maluku.

Ia mengakui,  Brigpol Andri­yanto Saban, Brigpol Romelus Istia dan beberapa ang­gota lainnya diduga ter­libat penyalahgunaan nar­koba.

“Kita serahkan ke polda untuk proses lanjut. Jadi penjemputan itu benar tetapi saat saya tidak berada di tempat, karena ada kegiatan rakernis di pusat sehingga dinamika di lapangan. Itu penjemputan dua orang oknum  yang memang berada di rumah saya. Mereka adalah orang-orang yang saat ini sementara dilakukan peng­amanan perubahan perilaku karena terendus. Awalnya mereka sudah kami periksa itu negative, tetapi ternyata  yang soal ini pengemba­ngan kasus awal,” jelas Brigjen Rus­no Prihardito kepada wartawan di Kantor BNN Provinsi Maluku, Jumat (10/8).

Kedua oknum polisi ini, kata Rusno, merupakan BKO di BNN Provinsi Maluku dan dimanfaatkan untuk melakukan penyelidikan. Ia tak mau mengomentari soal pena­ng­kapan kedua polisi itu, dan lainnya.

“Waktu kita ambil mereka itu kan terindikasi, tetapi negatif sehingga diambil untuk rehabilitasi karena BNN punya kewenangan untuk rehabilitasi. Terkait narkotika men­jadi persoalan rumit dan panjang ketika pastikan dia bisa terbebas dari narkoba. Dan itu bisa terjadi kalau proses rehabilitasi belum tuntas,” kata Rusno.

Ditanya soal dugaan banyak pe­nangkapan oleh BNN, namun ba­rang bukti narkoba diambil, semen­tara pelaku dilepas, Rusno memban­tahnya. “Itu tidak benar. Persoalan nar­koba sangat rumit dan untuk memutus mata rantai narkoba itu harus dide­kati pihak-pihak yang pernah atau pemakai narkoba,” kata Rusno beralasan.

BNN Pusat Turun

Informasi penangkapan anggota polisi Brigpol Andriyanto Saban dan  Brigpol Romelus Istia yang diduga terlibat narkoba, di kediaman Kepala BNN Provinsi Maluku, sampai juga di telinga BNN Pusat.

BNN Pusat langsung mengusut tim dari bidang pemberantasan ins­pektorat. Tim berjumlah tiga orang yang diketuai oleh Brigjen Andi Rudiantor itu, sementara melakukan penyelidikan.

“Kita datang untuk melakukan kegiatan penyelidikan untuk kegia­tan ini, sehingga tidak ada berita-be­rita yang sepihak. Kami belum bisa melakukan jawahan karena baru saja melakukan pemeriksaan,” kata auditor muda bidang inspektorat BNN Pusat, Kombes Joko Widodo kepada wartawan, di Kantor BNN Provinsi Maluku.

Tim akan berada beberapa hari untuk melakukan pengusutan terkait penangkapan sejumlah anggota polisi yang diduga terlibat narkoba di kediaman Kepala BNN.

“Kita hanya membaca masmedia, Dan atas perintah pimpinan, kita juga kita koordinasi dengan pem­be­rantasan, kalau terbukti dilkau atau ditindak. Saya belum bisa banyak ber­bicara karena kita masih baru mau lidik. Kita aka lihat apakah se­suai prosedur, sesuai SOP tidak itu kan kami lidik. Periksa semua,” tandasnya.

Ditanya soal pemeriksaan terha­dap Kepala BNN Maluku, Widodo mengatakan, jika setelah proses ditemukan indikasi tidak beres, maka akan diproses.

Diciduk

Sebelumnya diberitakan, dua ok­num anggota polisi, seorang pega­wai honor BNN Maluku, dan satu lagi warga masyarakat, di­ringkus oleh tim gabungan, Rabu (8/8) ma­lam. Tim gabungan itu melibatkan BNN Maluku, Ditresnarkoba dan Propam Polda Maluku.

Mereka yang ditangkap yaitu, Brigpol Andriyanto Saban alias AS dan Brigpol Romelus Istia alias RI, pegawai honor BNN Maluku Rido Papilaja alias RP, dan seorang warga bernama Mario de Fretes alias MD.

Informasi yang diperoleh Siwa­lima, mereka diciduk di rumah dinas Kepala BNN Provinsi Maluku, Brig­jen Rusno Prihardito, Karang Pan­jang Ambon, sekitar pukul 22.00 WIT.

“Mereka yang ditangkap yaitu, Brigpol RI, Brigpol AS, RP pegawai honor BNN serta MD anggota masyarakat. Oknum anggota polisi ini masuk dalam sindikat narkoba,” kata sumber di BNN Maluku.

Sumber itu, mengungkapkan, saat mereka ditangkap Kepala BNN tidak berada di rumah. “Informasi Kepala BNN lagi di luar daerah,” ujarnya.

Oknum-oknum anggota polisi ini, lanjut sumber itu, sudah lama menjadi target. Sepak terjang mereka diikuti sejak bulan Mei 2018.

“Oknum-oknum anggota polisi ini bertugas di BNN Maluku, dan dipa­kai sebagai tim oleh Kepala BNN,” ujarnya.

Sumber itu, menambahkan, Brig­pol RI, Brigpol AS, RP pegawai ho­nor BNN serta MD sementara di­amankan di Ditresnarkoba Polda Maluku.

“Mereka ini sudah target sejak bulan Mei 2018 lalu, mereka juga turut menggunakan narkoba tetapi tidak diproses hukum. Mereka juga di­duga merupakan sindikat narkoba di Maluku yang terlibat penyalah­gu­naan narkoba,” ungkap sumber itu.

Sebelumnya, sekitar pukul 13.00 WIT, tim gabungan menangkap Aiptu RP di kediamannya di Perigi Lima. Sementara Brigpol AT dan Brig­pol AL AL ditangkap  di Kuda­mati pada, Minggu (5/8). Tim juga menangkap RL, pegawai JNE pada Sabtu (4/8).

Pasca penangkapan itu, Kepala BNN Maluku, Brigjen Rusno Pri­hardito, yang dikonfirmasi, memban­tah  penangkapan itu.

“Informasi itu tidak benar, saya sudah lapor ke kapolda dan pimpi­nan BNN,” katanya singkat.

Sedangkan Direktur Resnarkoba Polda Maluku, Kombes Thein Ta­bero yang dihubungi, teleponnya tidak aktif.

Tindak

Polda Maluku akan menindak tegas oknum-oknum anggota polisi yang terlibat narkoba, pasca dita­ngkap di kediaman Kepala BNN Provinsi Maluku, Karang Panjang, Kota Ambon.

Kabid Humas Polda Maluku Kom­bes M Roem Ohoirat, didampingi Direktur Resnarkoba Kombes Thein Tabero menegaskan, oknum-oknum anggota polisi yang ditangkap su­dah ditahan dan sementara dipe­riksa oleh penyidik Ditresnarkoba.

“Dua yang ditangkap merupakan pengembangan dan keduanya ter­nyata ada di rumah Kepala BNN, sehingga langsung ditangkap,” kata Ohoirat, kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (9/8).

Dijelaskan, penangkapan Brig­pol Andriyanto Saban alias AS dan  Brigpol Romelus Istia alias RI di kediaman Kepala BNN Maluku, Brigjen Rusno Prihardito pada Rabu (8/8) malam, merupakan pengem­bangan dari penangkapan pada 5 Agustus 2018, yang juga melibatkan dua warga sipil, yaitu pegawai Pem­prov Maluku, Jemmy Lattupeirissa dan Ronaldo Lekahena, karyawan JNE.

Sementara anggota polisi yang ditangkap yaitu Aipda Remal Patty alias RP, Brigpol Alfred Tuhumury alias AT dan Brigpol Andre Leatemia alias AL.

Saat itu, ada sabu yang dikirim me­lalui jasa pengiriman JNE. Namun, karena tidak ada pemilik yang me­ngambilnya, sehingga oknum-oknum anggota polisi itu, memakai sabu-sabu tersebut.

“Berawal dari diamankan barang bukti dari JNE, dan setelah tunggu tidak ada pemilik yang mendatangi JNE untuk mengambil barang itu, ketika diselidiki ternyata narkoba dan kemudian diambil untuk digu­nakan. Dari situlah diamankan 1 paket berisikan 3 gram sabu di JNE,” jelas Ohoirat.

Dikatakan, para tersangka akan dijerat dengan pasal berlapis, karena menguasai dan memiliki narkotika. “Kasus ini sedang berproses tentu­nya sebagaimana menjadi kebijakan Presiden dijabarkan Kapolri dan sampai Kapolda dan jajaran paling bawah yang namanya narkotika tidak tolelir dan tetap diproses,” tandas Ohoirat.

Aiptu Remal Patty dijerat pasal 116 ayat 1 dan pasal 136 UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Brigpol Andriyanto Saban alias AS dan Brigpol Romelus Istia alias RI dijerat pasal 138 UU Narkotika jo pasal 55 dan 56 KUHP.  Sedang­kan, Brigpol Alfred Tuhumury alias AT dan Brigpol Andre Leatemia alias AL dijerat pasal 116 UU No­mor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon