Kriminal ›› Aborsi Istri Anggota TNI, 2 Orang Jadi Tersangka

Aborsi Istri Anggota TNI, 2 Orang Jadi Tersangka


Ambon - Setelah memeriksa lima saksi, tim penyidik Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease menetapkan dua tersangka kasus aborsi istri anggota TNI Yonif 731/Kabaresi.

Kedua tersangka itu adalah AU, istri anggota TNI tersebut dan W, bidan yang membantu AU melakukan aborsi.

Sebelum menetapkan AU dan W sebagai tersangka, penyidik memeriksa lima saksi, terma­suk HS, suami AU.

“Sudah dua tersangka, pelaku dan bidan yang membantu meng­gugurkan kandungan. Saksi yang diperika sebanyak lima orang termasuk oknum anggota TNI yang adalah suami pelaku. Hanya saja untuk keterlibatannya oknum anggota TNI ini itu kewenangan pengusutan ada pada Pomdam bukan polisi,” jelas Kasat Reskrim Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, AKP Teddy kepada wartawan, di Mapolres Ambon, Rabu (25/10).

Nekat Aborsi

Seperti diberitakan, Istri prajurit anggota TNI Yonif 731/Kabaresi berinisial AU nekat melakukan aborsi lantaran terkendala biaya bersalin. 

Informasi yang diperoleh Siwa­lima dari kepolisian Selasa (24/10) menyebutkan, tindakan nekat AU menggugurkan janin yang sudah memasuki usia 7 bulan di kandu­ngannya itu, dilakukan di rumah kos milik salah seorang warga RT 001/RW 06, Desa Hative Kecil, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Senin (23/10) sekitar pukul 21.00 WIT.

Langkah yang dilakukan AU yang nyaris membahayakan nyawanya itu, juga disetujui oleh suaminya HS, yang saat ini bertugas di  Kompi D Namrole, Kabupaten Buru Selatan.

AU dan HS menjalin hubungan sejak tahun 2014.  Namun AU baru dinikahi secara agama, tetapi kedinasan belum dilakukan.

“Sejak menikah secara agama ke­dua pasangan suami istri ini ting­gal bersama di Kecamatan Nam­role, bahkan telah dikarunia se­orang anak yang kini telah berusia 2 tahun 7 bulan. Kemudian AU kem­bali mengandung dengan umur kandungan telah memasuki usia 7 bulan, karena terkendala de­ngan biaya persalinan yang belum disiapkan oleh kedua pasangan membuat AU dan suaminya se­pakat untuk menggugurkan kandu­ngan pelaku di Ambon,” jelas sumber di Polres Ambon.

Atas kesepakatan itu, AU bertolak dari Namrole menuju Ambon pada, Sabtu (14/10). Ia lalu menginap di salah satu rumah kos temannya di Lorong Aster RT 001/RW 06, Desa Hative Kecil.

Kemudian AU menghu­bungi bidan yang akan membantu meng­gugurkan janinnya. Namun ketika dihubungi sang bidan berinisial W itu, sementara berada di Kabu­paten SBB. AU dan W sepakat bertemu sekembalinya dari SBB pada, Senin (23/10).

“Sesuai dengan kesepakatan oleh pelaku dengan bidan W, ibu bidan langsung menemui pelaku Senin pukul 16.00 WIT di rumah kos teman pelaku. Kemudian pelaku disuruh berbaring, dan pelaku diberikan 6 butir pil perangsang. Pil itu ada yang diminum,  ada yang diletakan di bawah lidah, dan ada yang dimasukan ke dalam vagina,“ beber sumber itu.

Setelah 30 menit kemudian, AU merasa pusing dan sakit pada perut yang disertai dengan tubuh AU yang gemetaran. Reaksi itu, membuat janin yang ada dalam kandungannya keluar.

Setelah janin keluar, kondisi tubuh AU mulai menurun dan le­mas. Ia langsung berteriak mema­nggil temannya. Teriakan AU itulah yang membuat kecurigaan tetangga, dan akhirnya terbongkar aksi kejahatan yang dilakukannya.

Setelah menerima laporan dari warga sekitar, anggota Buser  dan anggota SPKT Polres Pulau Ambon langsung ke TKP dan mengaman­kan AU dengan janin laki-laki yang baru saja digugurkan. 

Karena kondisi AU yang lemas, ia lalu dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, Tantui Ambon. (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon