Hukum ›› Anggota DPRD Buru Diadukan Ke Polisi

Anggota DPRD Buru Diadukan Ke Polisi


Namlea - Diduga melakukan penipuan dengan menjual sebidang tanah ukuran 15 meter x 30 meter, yang terletak di daerah Kampus Universitas Iqra Buru, tepatnya di sudut Kampus bagian belakang, akhirnya menjadi masalah dan berbuntut keributan, di mana Sofyan Solissa yang juga berprofesi sebagai Anggota DPRD Buru dipukul oleh Hj Nurhalisa Kolengsusu di Kantor Polres Buru.

Perlakukan yang tidak senonoh itu dikarenakan, Solissa dituduh telah melakukan penipuan dengan menjual sebidang tanah kepada Sahlan, anak dari Hj Nurhalisa Kolengsusu sebagai pihak pembeli. Tanah milik Hj Fatima Wamnebo yang kemudian diwakili oleh Sofyan Solissa untuk dijual itu, sebelumnya menjadi sengketa pada tahun 2006 yang lalu antara Wamnebo dengan Abu Luhu.

Sahlan mengatakan, Sabtu kemarin, dirinya ke polres tepatnya di ruangan KPSPK, kemudian setelah itu muncullah Solissa yang ditemani beberapa temannya, masih di luar ruangan Solissa sudah mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak sopan, namun Sahlan tidak tanggapi, bahkan Sahlan mencoba menenangkan Solissa dan mengajak untuk berbicara secara baik-baik, namun dibalik itu, menurut Sahlan Solissa merasa tersinggung dengan perkataan Sahlan, karena Solissa menganggap dirinya anggota DPRD.

Dalam pemeriksaan entah kenapa Solissa dengan Sahlan nyaris adu jotos, polisi pun saat itu, hampir tak mampu menegarai Solissa dan Sahlan, dalam pertengkaran itu juga Hj Nurhalisa Kolengsusu (ibu Sahlan) nyaris menjadi sasaran Solissa, untung saja berbekal ilmu silat, Hj Nurhalisa Kolengsusu saat itu langsung melumpuhkan Solissa dan akhirnya solissa terjatuh.

Dari kejadian itu kata Sahlan, polisi langsung menetapkan Hj Nurhalisa Kolengsusu sebagai tersangka berdasarkan laporan Solissa, dan dipastikan hari senin (6/12), Sahlan bersama ibunya juga turut dipanggil dalam kasus ini.

Berdasarkan laporan kronologis kejadian yang dibuat Sahlan untuk dilayangkan kepada pihak kepolisian setempat bahwa, pada tahun 2006 lalu terjadi transaksi jual beli tanah antara pemilik tanah Hj. Fatima Wamnebo yang diwakili oleh Sofyan Solissa dengan pihak pembeli Hj Nurhalisa Kolengsusu, yang diwakili oleh anaknya sendiri yaitu Sahlan.

Transaksi jual beli tanah saat itu juga didasarkan pada hubungan pertemanan antara Sofyan Solissa dengan Sahlan, bahkan proses jual beli tanah pada saat itu karena memenuhi kebutuhan mendesak, di mana saat itu Solissa yang sementara berproses untuk Pergantian Antar Waktu (PAW) Anggota DPRD Buru dari Partai Amanat Nasional (PAN).

Nilai sebidang tanah yang ditawarkan kepada Sahlan saat itu sebesar 13 juta rupiah dengan perincian 6 juta dibayar secara tunai dan sisanya dilakukan penyicilan tanpa memakai kwitansi, maupun surat yang mengikat layaknya pembeli dengan penjual. Menjelang setahun kemudian, tepatnya di tahun 2007 barulah kwitansi jual beli menyusul, kemudian didalam perjanjian lisan juga antara Solisa dengan Sahlan sebagai mana uraian laporan Sahlan bahwa, penyicilan terhadap tanah akan mulai dilakukan setelah pembangunan rumah dilaksanakan.

Setelah kesepakatan lisan, pengukuran terhadap lahan dilakukan yang mana dihadiri oleh Sahlan selaku pembeli, Hj Nurhalisa Kolengsusu (ibu dari sahlan), Asina Kolengsusu (paman Sahla), dan Sofyan Solissa selaku pemilik lahan, dimana Solissa mengatakan, posisi lahan tersebut terdapat kelebihan sekitar 1,5 meter.

Selanjutnya, posisi tanah itu tidak lurus agak menyerong khususnya pada sisi bagian jalan, karena terdapat tiang beton (PAL), tetapi bukan sebagai tanda batas lahan yang dibeli oleh Sahlan, usai pengukuran, Solissa dengan tergesa-gesa mengatakan, bahwa ia akan berangkat ke Ambon.

Namun entah kenapa, dengan tiba-tiba Solissa menyangkal semua apa yang telah terjadi tahun 2006 lalu antara dirinya dengan Sahlan, kejadian itu terjadi tepatnya pada tanggal 9 November 2010. (S-31)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon