Pendidikan ›› 89 Siswa SMK di Maluku Ikut LKS

89 Siswa SMK di Maluku Ikut LKS


Ambon - Sebanyak 89 siswa SMK-se Maluku bersaing selama lima hari untuk mengikuti Lomba Kompetensi Siswa (LKS). Dari 50 LKS secara nasional, yang diikuti oleh Maluku hanyalah 26 LKS.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku, M. Saleh Thio mengatakan, lomba ini berlangsung tiap tahun dan Maluku sudah punya nama di tingkat nasional bahkan internasional.

“Untuk itu, sangat diharapkan siswa Maluku yang ikut LKS miliki karakter baik. Dan juga butuh semangat yang tinggi karena memiliki mental juara, hingga siswa harus beretika dan tidak boleh anggap remeh, harus memacu diri sehingga bisa bersaing dengan daerah lain. Sebab prestasi yang didapatkan itu akan membanggakan kita semua,” kata Thio kepada wartawan di Ambon Selasa (7/11).

Penjurian pun kata Thio, harus mengutamakan profesionalisme demi kemajuan Maluku kedepan.

“Sesuai dengan lomba yang diturunkan dari pusat ada kurang lebih 50, namun yang diikuti oleh Maluku hanya 26 mata lomba. Kami berharap siswa dapat bertanding sebaik mungkin agar bisa mewakili Maluku pada ajang tingkat nasional.  Kalau tahun lalu ada yang meraih juara pertama, hal itu juga harus terukir dari peserta yang ikut sekarang ini. Kiranya apa yang menjadi dambaan kepala dinas dapat terwujud, dimana harus ada utusan Maluku yang mengibarkan panji Siwalima berkumandang,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu dewan juri dari lomba Bidang Akomodasi dan Restorant Service Thenny J. Barlola  yang juga merupakan Manager Hotel Manise, mengatakan, sebanyak 7 siswa SMK yang berasal dari Kabupaten Maluku Tengah, Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) dan Kota Tual mengikuti LKS Bidang Akomodasi Kamar dan Restaurant Service yang diselenggarakan di Hotel Manise.

Menurutnya, indikator penilaian yang diutamakan ialah menyamakan standar pelayanan. Dimana siswa SMK di 11 kabupaten/kota ini digiring untuk bisa melihat pelayanan baik di kamar hotel dan pelayanan ketika orang masuk di restaurant.

“Ini indikasi kesana, apakah standar nasional yang ada di kamar dan resto itu merata ataukah tidak. Hal-hal yang dinilai juga dari prosedur penyiapan trolly barang kemudian mendorong sampai di depan pintu, kemudian persiapan fisik mengantarkan barang, hingga masuk ke kamar, pembersihan kamar dari tempat tidur sampai dengan kamar mandi sampai dengan selesai dengan ketepatan waktu yang sesuai dengan prosedurnya,” jelasnya.

Sementara untuk Restaurant Service, menurut Thenny yang dinilai ialah bagaimana peserta dapat memahami apa yang dibuat, menu yang dipesan harus dilihat dengan baik, pelayanan yang harus sesuai dengan SOP yang ada, dan pertanyaan terkait dengan cara membuat menu makanan itu dapat dijawab dengan baik.

Sementara itu peserta yang mengikuti LKS Bidang Kriya Kayu maupun Kriya Tekstil yang berlangsung di SMKN 7 Ambon, Selasa (7/11) sangat minim. Kedua bidang dimaksud hanya diikuti masing-masing satu peserta.

LKS Bidang Kriya Kayu tersebut hanya diikuti Sunarto Wali yang juga berasal dari SMKN 7 Ambon.

Kendati hanya diikuti oleh satu peserta, namun penyelenggara mengharuskan kepada yang bersangkutan untuk mengerjakan soal sebagaimana yang telah disiapkan.

“Peserta LKS bidang kriya kayu ini hanya satu orang. Namun penyelenggara tetap mengha­rus­kan yang bersangkutan mengerja­kan soal LKS sebagaimana yang telah disiapkan,” ungkap guru pendamping SMKN 7 Ambon, Dani Maitimu kepada Siwalima disela-sela LKS dimaksud, Selasa (7/10).

Khusus untuk kriya kayu, katanya, peserta diharuskan mengerjakan tempat koran yang berukuran 400 mm x 255 mm x 600 mm dari bahan kayu jati.

“Konstruksinya meliputi ekor burung, pen lubang, dowel serta verstek yang diperkuat lem. Waktu pengerjaannya 20 jam,” kata Maitimu.

Tak hanya di bidang Kriya Kayu, hal yang sama juga terjadi di bidang Kriya Tekstil. LKS hanya diikuti satu peserta yaitu Roslina dari SMKN 7 Ambon. “Peserta LKS Bidang Kriya Tekstil ini diharuskan membuat taplak meja dengan batik tulis bermotif khas daerah Maluku,” ungkap guru pendamping Lisye Hidungoran.

Ia menambahkan, peserta akan mengawali pembuatan dengan cara membatik dengan memnggunakan alat yang dinamakan canting untuk menggambar pola-pola yang diatur sesuai dengan pola gambar yang disesuaikan. “Puncaknya nanti dengan melakukan pewarnaan,” ujarnya. (S-43)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon