Hukum ›› 16 Adegan Warnai Rekonstruksi Pembunuhan Warga Tantui

16 Adegan Warnai Rekonstruksi Pembunuhan Warga Tantui


Ambon - Rekonstruksi pembunuhan Hari Wahyudi Pahaly (17), warga Pandang Kasturi Kapahaha, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon digelar, Rabu (23/3). Sebanyak 16 adegan diperagakan.

Rekonstruksi yang dilakukan dari pukul 10.00-11.30 WIT itu, dipimpin Kaur Bin Ops (KBO) Polres Pulau Ambon dan Pp. Lease, Iptu Isack Salamor  dihadiri oleh penyidik dan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Asmin Hamja.

Rekonstruksi yang dilakukan di kawasan taman makam Bahagia Kapahaha itu, turut menyedot perhatian warga sekitar.

Sebanyak 16 adegan diperagakan oleh tiga tersangka yakni, Saulin Naung alias Naka warga Negara Asing (WNA) asal Myanmar, Masi Ibrahim (18) dan Maulana Termawut (18) warga Kapaha serta  tujuh saksi.

Dari 16 adegan, hanya satu adegan yang diperagakan di tempat berbeda yakni di dermaga Pelabuhan Peri­kanan Nusantara (PPN), Tantui Ambon. Karena di kokasi ini, tersangka membuang barang bukti pisau yang dipakai untuk menikam korban.

Kasubbag Humas Polres Pulau Ambon dan Pp. Lease, AKP Meity Jacobus menjelaskan, rekonstruksi yang dilakukan untuk melengkapi proses penyidikan dan penuntutan oleh jaksa.

“Ada sekitar 16 adegan. Adegan terakhir di pelabuhan PPN Tantui, karena tersangkanya membuang pisau atau barang bukti di laut. Sedangkan di TKP Makam Bahagia itu dari mulai tersangka datang hingga melancarkan aksinya menghabisi nyawa korban,” jelas Jacobus.

Hari Wahyudi Pahaly dihabisi pada Kamis 10 Desember 2015 lalu. Saat itu,  Ance Soulissa, warga Pandang Kasturi sedang duduk di depan rumahnya. Tiba-tiba ada warga yang datang memberitahukan kepadanya bahwa korban  ditikam oleh OTK.

Mendapat informasi  tersebut, Soulissa langsung bergegas menuju TKP  dan melihat korban sudah tergeletak. Ia kemudian meminta teman-teman korban untuk membawa korban ke rumah sakit, tetapi nyawa korban tak lagi tertolong akibat luka yang cukup parah.

Setelah penyelidikan dan penyi­dikan oleh polisu terbongkarlah peristiwa pembu­nuhan itu.  Setelah Saulin Naung alias Naka, polisi menciduk Masi Ibrahim  dan Maulana Termawut. Ketiga tersang­ka dijerat pasal berlapis yakni pasal 170 KUHP jo pasal 351 ayat 3 KUHP dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara.  (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon